Candaan Raja Charles III tentang Pembakaran Gedung Putih Memicu Tawa di Jamuan Kenegaraan Washington

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 30 April 2026 | Washington – Pada Selasa, 28 April 2026, Raja Inggris Charles III menyampaikan candaan yang mengacu pada sejarah kolonial Inggris di hadapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih. Candaan itu menyebutkan bahwa jika tidak karena peran Inggris pada masa lalu, warga Amerika mungkin masih berbicara dalam bahasa Prancis. Pernyataan tersebut menimbulkan gelak tawa di antara para tamu, mencerminkan suasana hangat meski terdapat ketegangan geopolitik, termasuk isu Iran.

Raja Charles menambahkan humor mengenai renovasi Gedung Putih, sekaligus mengingatkan kembali peristiwa 1814 ketika pasukan Inggris membakar gedung bersejarah itu selama Perang 1812. “Jika sewaktu‑waktu Anda butuh menghubungi kami, cukup telepon saja,” ujar Charles sambil mengaitkan leluconnya dengan sejarah panjang persaingan kolonial antara Inggris dan Prancis di Amerika Utara.

Baca juga:

Presiden Trump menanggapi dengan candaan balasan, memuji pidato Charles di Kongres Amerika Serikat yang ia klaim berhasil membuat Partai Demokrat berdiri. Trump juga menegaskan bahwa Charles tampaknya sejalan dengannya terkait kebijakan keras terhadap Iran, menyatakan, “Jika itu terserah Raja Charles, dia mungkin akan membantu kami melawan Iran.” Respon ini memperlihatkan dinamika hubungan bilateral yang semakin dipengaruhi oleh isu keamanan regional.

Dalam suasana yang lebih bersahabat, Raja Charles mempersembahkan sebuah lonceng yang diambil dari kapal selam HMS Trump, kapal yang pernah beroperasi pada Perang Dunia II. Hadiah simbolis itu dimaksudkan sebagai lambang sejarah bersama dan harapan akan masa depan yang lebih terkoordinasi antara Inggris dan Amerika Serikat.

Selain lelucon tentang masa lalu, Charles menyoroti pentingnya Magna Carta dalam tradisi hukum Amerika. Ia mencatat bahwa Mahkamah Agung AS telah mengutip Magna Carta dalam lebih dari seratus kasus, menegaskan prinsip pembatasan kekuasaan eksekutif. Penekanan pada nilai‑nilai bersama ini mendapat standing ovation di Kongres, memperkuat citra kerjasama trans‑Atlantik.

Kunjungan resmi ini juga menjadi ajang diplomasi strategis. Kedua pemimpin membahas tantangan global, mulai dari konflik di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga ancaman nuklir Iran. Trump mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menurutnya enggan memberi dukungan militer kepada AS dalam konflik Iran, sementara Charles menegaskan komitmen Inggris terhadap aliansi NATO dan AUKUS.

Meski suasana penuh canda, keamanan tetap menjadi prioritas. Insiden penembakan di dekat Gedung Putih pada hari yang sama menimbulkan kepanikan singkat, namun tidak mengurangi semangat kunjungan. Para pejabat keamanan meningkatkan pengamanan, memastikan acara tetap berjalan lancar.

Secara keseluruhan, candaan Raja Charles III tentang Gedung Putih yang pernah dibakar Inggris menjadi titik fokus yang menghidupkan suasana jamuan kenegaraan. Humor tersebut tidak hanya mengingatkan pada fakta sejarah, tetapi juga menegaskan ikatan budaya dan politik yang telah terjalin selama lebih dari dua abad antara kedua negara. Kedepannya, hubungan Inggris‑AS diperkirakan akan terus beradaptasi dengan dinamika global, menggabungkan warisan historis dengan tantangan kontemporer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *