Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 07 Mei 2026 | Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berkecamuk beberapa waktu belakangan mulai menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Setelah beberapa bulan konflik, AS dan Iran dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang. Presiden AS Donald Trump tengah menyederhanakan sejumlah isu dalam perundingan damai agar kelompok moderat di tubuh pemerintahan Iran bisa kembali ke meja negosiasi.
Iran sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan bernegosiasi tentang masalah nuklir dengan siapa pun dan kendali atas Selat Hormuz harus tetap berada di tangan Iran. Hal ini ditegaskan oleh Mohsen Rezaei, anggota Dewan Kebijakan Iran dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Rezaei memperingatkan bahwa melepaskan Selat Hormuz akan membuka peluang bagi musuh untuk kembali menyerang Iran.
Sementara itu, upaya AS untuk mengawal kapal-kapal dagang keluar dari Selat Hormuz melalui operasi yang disebut "Proyek Kebebasan" berakhir dengan kegagalan. Operasi ini hanya bertahan 48 jam dan baru berhasil mengawal dua kapal. Sekitar 1.600 kapal dengan puluhan ribu awak masih terjebak di Selat Hormuz tanpa kepastian jalur aman untuk keluar.
Trump kemudian menghentikan operasi Proyek Kebebasan setelah sekutu utama AS di Teluk menangguhkan izin untuk menggunakan pangkalan dan wilayah udaranya dalam melaksanakan operasi tersebut. Keputusan ini diambil setelah sekutu-sekutu AS di Teluk, termasuk Arab Saudi, mengejutkan dengan pengumuman Proyek Kebebasan.
Meskipun demikian, para pejabat Iran membenarkan bahwa mereka sedang mempelajari proposal baru AS yang bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Para pejabat dari kedua belah pihak mengisyaratkan optimisme yang hati-hati bahwa negosiasi mungkin akan menghasilkan nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali pembicaraan diplomatik yang lebih luas.
Kondisi di Selat Hormuz masih tegang, dengan serangan rudal masih terjadi di sekitar jalur laut tersebut. Perusahaan pelayaran memilih menahan kapal mereka ketimbang mengambil risiko melintas. Dengan kata lain, memindahkan kapal tanpa jaminan perlindungan asuransi yang memadai menjadi langkah yang sangat mahal dan berbahaya.
Kesimpulan dari perkembangan terbaru ini adalah bahwa AS dan Iran mulai menunjukkan kemajuan dalam mencapai kesepakatan damai, namun masih banyak tantangan yang harus diatasi sebelum mencapai penyelesaian yang permanen. Selat Hormuz masih menjadi titik fokus konflik, dan upaya diplomatik terus dilakukan untuk mencapai gencatan senjata yang efektif.
