Makkah Resmi Jadi Pusat Pelayanan Haji Indonesia, Jemaah Diimbau Jaga Kesehatan Jelang Armuzna

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 07 Mei 2026 | Kota Makkah, Arab Saudi, resmi menjadi pusat pelayanan haji Indonesia seiring dimulainya kedatangan jemaah gelombang kedua. Pemerintah kini memperketat pengawasan dan mengimbau seluruh jemaah untuk menjaga stamina serta fokus pada kesiapan fisik menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi 1447 H/2026 M, Ihsan Faisal, mengatakan kelompok terbang (kloter) pertama gelombang kedua yang tiba di Makkah berasal dari Solo, Jawa Tengah, yakni SOC-44. Total ada 15 kloter yang akan diterima di hari pertama gelombang kedua.

Baca juga:

Jemaah haji Indonesia gelombang kedua mulai tiba di Makkah pada Kamis (7/5/2026) pagi Waktu Arab Saudi (WAS). Kloter SOC 44 embarkasi Solo, Jawa Tengah, menjadi rombongan pertama yang tiba setelah menempuh penerbangan langsung dari Tanah Air menuju Jeddah.

Para jemaah laki-laki tampak sudah mengenakan kain ihram sejak keberangkatan dari Indonesia. Kepala Sektor 5 Daker Makkah, Muh. Ikhsan, mengatakan kloter SOC 44 menjadi kedatangan pertama di wilayah kerjanya.

Ia menyebut pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan pihak syarikah untuk memastikan seluruh layanan siap sebelum jemaah tiba. Salah satu percepatan layanan dilakukan adalah aktivasi kartu nusuk yang langsung dilakukan di dalam bus sebelum jemaah turun ke hotel.

Operasional penerimaan jemaah gelombang kedua jauh lebih menantang dibanding gelombang pertama dari Madinah. Hal ini berkaitan erat kondisi fisik dan mental para jemaah setelah melakukan perjalanan panjang. Jemaah harus berangkat dari embarkasi sejak dini hari, menjalani proses fast track berjam-jam, lalu terbang hingga 11 jam sebelum melanjutkan perjalanan darat dari Jeddah ke Makkah.

Kondisi tersebut membuat jemaah lebih rentan kelelahan karena sudah mengenakan ihram sejak dari Indonesia. Karena itu, petugas memberikan perlakuan berbeda bagi jemaah gelombang kedua. Fokus utama diarahkan pada pemulihan kondisi fisik jemaah sebelum menjalankan umrah wajib.

Selain itu, tim kesehatan juga diminta melakukan pemantauan khusus terhadap jemaah yang baru tiba dari Jeddah. Untuk diketahui, kloter SOC 44 terdiri dari 168 jemaah laki-laki dan 192 perempuan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 175 jemaah berusia di atas 60 tahun.

Setelah beristirahat, para jemaah dijadwalkan melaksanakan umrah wajib pada Kamis malam pukul 22.00 WAS. Sementara itu, Kemenag melarang jemaah haji untuk mengikuti ziarah dan city tour sebelum Armuzna. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko penyebaran penyakit dan menjaga kesehatan jemaah.

Jemaah haji lansia, Jumaria, menjadi sorotan pada musim haji tahun ini. Ia adalah seorang nenek yang wajahnya viral di media sosial, setelah Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute. Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 ini karena kisahnya yang luar biasa.

Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah, cukup berjarak dari penduduk lain di kampungnya. Ia menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani. Ia mengaku, hasil panen yang diperoleh tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan disimpan sedikit demi sedikit sebagai tabungan haji.

Tak hanya dari sawah, ia juga menerima upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh uang itu tetap ia simpan dengan disiplin. Bagi Jumaria, menyimpan uang menjadi perjuangan tersendiri. Ia tidak memiliki tempat khusus untuk menabung. Uang hasil kerjanya disembunyikan di berbagai tempat sederhana agar aman dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.

Kisah hajinya bukan cerita soal kemewahan, tapi kesederhanaan dan kerja keras untuk mewujudkan keinginan menunaikan rukun Islam kelima. Bahkan, ia rela makan ubi agar duit yang ia tabung untuk niat haji tidak terpakai.

Kisah Jumaria menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia menunjukkan bahwa dengan kerja keras dan disiplin, seseorang dapat mencapai tujuannya. Ia juga menunjukkan bahwa pentingnya menyimpan uang untuk kebutuhan di masa depan.

Untuk jemaah haji yang lain, kisah Jumaria dapat menjadi contoh bagi mereka untuk tetap disiplin dan gigih dalam mencapai tujuan mereka. Mereka juga dapat belajar dari kisahnya tentang pentingnya menyimpan uang untuk kebutuhan di masa depan.

Dalam beberapa hari ke depan, jemaah haji akan melaksanakan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Mereka harus tetap siap dan gigih dalam melaksanakan ibadah tersebut. Mereka juga harus tetap menjaga kesehatan dan keselamatan mereka agar dapat melaksanakan ibadah dengan lancar.

Dengan demikian, kisah Jumaria dan jemaah haji lainnya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap disiplin dan gigih dalam mencapai tujuan kita. Mereka juga dapat menjadi contoh bagi kita untuk tetap menjaga kesehatan dan keselamatan kita agar dapat mencapai tujuan kita dengan lancar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *