Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 16 April 2026 | Bandung, 16 April 2026 – Direktur Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, dr. Rachim Dinata Marsidi, SpB, pada hari Kamis mengkonfirmasi seluruh rangkaian peristiwa yang hampir mengakibatkan pertukaran bayi baru lahir di unit Neonatal High Care (NHCU). Ia menegaskan bahwa insiden yang melibatkan keluarga Nina Saleha telah diselesaikan secara kekeluargaan tanpa adanya tuntutan lanjutan.
Bayinya, Nina Saleha, pertama kali dirawat di RSUP dr. Hasan Sadikin pada 5 April 2026 setelah mengalami icterus (kuning) pada usia beberapa hari. Selama tiga hari di unit NICU, kondisi bayi menunjukkan perbaikan signifikan sehingga tim medis memutuskan untuk memulangkan bayi pada tanggal 8 April. Pada hari itu, prosedur keamanan standar – termasuk verifikasi gelang identitas dan konfirmasi visual dengan orang tua – telah diterapkan, namun terjadi kesalahan dalam pencocokan gelang.
Berikut kronologi singkat peristiwa:
- 5 April 2026 – Bayi Nina masuk perawatan karena icterus.
- 5-8 April 2026 – Perawatan intensif di NICU dengan perbaikan kondisi.
- 8 April 2026 – Dua bayi dijadwalkan pulang bersamaan; proses identifikasi ulang dilakukan.
- Karena kesalahan penyerahan gelang, perawat menyerahkan bayi Nina kepada orang tua yang salah.
- Setelah menyadari kesalahan, petugas segera menghentikan proses dan mengembalikan bayi kepada Nina Saleha.
Sesaat setelah kejadian terdeteksi, RSHS membentuk tim investigasi khusus yang melakukan klarifikasi dengan keluarga pada 9 April 2026. Perawat yang terlibat secara terbuka meminta maaf kepada keluarga dan menegaskan komitmen pribadi untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa. Keluarga Nina pada awalnya mengajukan somasi terkait potensi kerugian emosional, namun setelah pertemuan dan permohonan maaf, pihak keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan tindakan hukum.
Insiden ini memicu keprihatinan publik luas, terutama di media sosial. Beberapa netizen mengangkat isu bahwa kasus serupa pernah terjadi di RSHS sebelumnya, meskipun tidak ada bukti resmi yang mendukung klaim tersebut. Rumah sakit menolak semua spekulasi, menegaskan bahwa prosedur identifikasi pasien bayi telah diperkuat secara signifikan setelah insiden ini.
RSHS berkomitmen memperbaiki sistem manajemen data pasien dengan mengadopsi teknologi barcode ganda, serta menambah sesi pelatihan bagi seluruh petugas unit neonatal. Dr. Rachim menambahkan, “Kami bertekad meningkatkan standar keselamatan, khususnya bagi bayi baru lahir, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.”
Para pakar kesehatan anak menilai bahwa penyerahan bayi yang salah, meskipun jarang, dapat menimbulkan trauma psikologis yang mendalam bagi orang tua. Mereka menyarankan agar rumah sakit tidak hanya mengandalkan prosedur administratif, melainkan juga memastikan pendampingan orang tua secara langsung pada saat penyerahan, sehingga risiko kesalahan dapat diminimalisir.
Sampai saat ini, tidak ada laporan resmi mengenai kehilangan atau pertukaran identitas bayi lain di RSHS. Pihak rumah sakit terus menegaskan transparansi dalam penanganan setiap kasus serta peningkatan berkelanjutan pada protokol keamanan pasien terkecil.
Kasus hampir tertukarnya bayi ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh institusi kesehatan di Indonesia. Kebutuhan akan sistem verifikasi ganda yang ketat, komunikasi yang jelas antara tenaga medis dan keluarga, serta budaya keselamatan yang menempatkan prioritas pada hak dan kesejahteraan pasien menjadi sorotan utama. Dengan langkah-langkah perbaikan yang telah diumumkan, diharapkan RSHS dapat memulihkan kepercayaan publik dan menjadi contoh bagi rumah sakit lain dalam mengelola risiko kritis di unit perawatan neonatal.
