Upah Pengupas Bawang yang Tidak Terduga: Antara Rp700 Ribu dan Kondisi Nyata

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 16 Agustus 2026 | Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI, DPR RI, dan DPD RI di Jakarta. Dalam pidato tersebut, beliau memperkenalkan sosok bernama Susanah, seorang buruh harian asal Kabupaten Bogor yang bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram. Namun, informasi ini memicu sorotan karena terdapat perbedaan mencolok antara narasi pidato dengan fakta lapangan mengenai profesi dan pendapatan harian Susanah.

Selain isu nominal upah pengupas bawang, terdapat pula ketidaksesuaian data administratif wilayah, di mana dalam daftar 8 persona pidato kenegaraan tertulis Kota Bogor, sementara Prabowo menyebut Kabupaten Bogor. Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian karena pekerjaan sebagai buruh pengupas bawang ternyata juga dijalani warga lain dengan kondisi ekonomi yang berbeda.

Baca juga:

Salah satunya adalah Gini (53), buruh pengupas bawang yang setiap hari mencari penghasilan di Pasar Legi, Kota Solo. Berbeda dari gambaran penghasilan yang disampaikan dalam pidato tersebut, Gini mengaku pekerjaan mengupas bawang bukanlah pekerjaan yang memberinya pendapatan besar. Bagi perempuan berusia 53 tahun itu, pekerjaan tersebut justru menjadi pilihan untuk tetap mendapatkan pemasukan di tengah usia yang semakin bertambah.

Di Palembang, sentra pengupasan bawang putih di Lorong Sungai Lumpur Laut, Kelurahan 11 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu II, menjadi tempat warga mencari penghasilan dengan mengupas bawang putih setiap hari. Namun, fakta yang ditemukan di lokasi menunjukkan nominal yang diterima para buruh ternyata jauh berbeda dari angka Rp700.000 per kilogram.

Salah seorang buruh pengupas bawang, Kms Basri (63), mengaku mengetahui informasi itu dari sang anak. Basri yang sehari-hari bekerja bersama istrinya, Raden Yulia (54), mengaku menerima upah Rp6.000 untuk setiap karung bawang putih yang selesai dikupas. Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan mencolok antara informasi mengenai upah pengupas bawang yang ramai dibicarakan dengan realitas yang dirasakan pekerja di Palembang.

Sementara itu, data resmi Komdigi mengungkap pekerjaan aslinya adalah penjahit kain majun berupah Rp700/kg dan pencuci ompreng di Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Kekeliruan data ini terjadi di tengah pemaparan capaian digitalisasi pendaftaran bansos yang dipresentasikan Presiden.

Kesimpulan dari peristiwa ini adalah bahwa terdapat perbedaan mencolok antara narasi pidato dengan fakta lapangan mengenai profesi dan pendapatan harian Susanah. Informasi ini memicu sorotan karena terdapat perbedaan mencolok antara narasi pidato dengan fakta lapangan mengenai profesi dan pendapatan harian Susanah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *