The Fed dan Dampaknya terhadap Perekonomian Global: Apa yang Terjadi Setelah Keputusan Suku Bunga?

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 02 Agustus 2026 | Pelaku pasar aset kripto masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut membuat harga Bitcoin relatif stabil karena sesuai dengan ekspektasi pasar.

Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian mengatakan harga Bitcoin cenderung bertahan setelah hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) diumumkan. Menurut dia, pasar kini lebih memperhatikan sinyal kebijakan moneter berikutnya dibandingkan sekadar keputusan mempertahankan suku bunga.

Baca juga:

"Bagi pasar, yang terpenting bukan hanya apakah suku bunga dinaikkan atau dipertahankan, tetapi juga seberapa besar kepastian yang diberikan terhadap arah kebijakan berikutnya," ujar Aloysia dalam keterangannya.

Ia mengatakan harga Bitcoin di platform Indodax bergerak pada kisaran Rp1,15 miliar hingga Rp1,172 miliar setelah pengumuman hasil rapat FOMC. Menurut Aloysia, minimnya volatilitas setelah keputusan The Fed menunjukkan bahwa kebijakan tersebut telah diantisipasi pelaku pasar.

Sentimen pasar saat ini dibentuk oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk prospek ekonomi global dan arah kebijakan moneter ke depan. Ia menjelaskan kebijakan suku bunga The Fed memengaruhi likuiditas global, biaya pendanaan, serta preferensi investor terhadap aset berisiko, termasuk aset kripto.

Karena itu, setiap perubahan arah kebijakan moneter AS umumnya turut memengaruhi pergerakan harga Bitcoin. Meski demikian, Aloysia mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan berdasarkan fluktuasi harga jangka pendek.

"Oleh karena itu, investor sebaiknya tetap disiplin menjalankan strategi investasinya dan tidak terpaku pada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tetapi tetap disiplin menjalankan strategi investasi sesuai tujuan dan profil risikonya," katanya.

Dalam kondisi pasar yang masih dinamis, Aloysia menilai strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu pilihan karena memungkinkan investor berinvestasi secara berkala dengan nominal tetap sehingga membantu mengurangi risiko akibat volatilitas harga.

Sementara itu, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan, karena meningkatnya tensi geopolitik global hingga potensi perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Di sisi lain, emas bergerak di atas US$4.100 per troy ounce, didorong oleh pelemahan dolar AS. Namun, yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,745%, yang dapat menekan emas karena logam mulia tidak memberi imbal hasil.

Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan fokus utama Bank Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas ekonomi di tengah tingginya ketidakpastian global. Menurutnya, dinamika ekonomi dunia berpotensi memengaruhi perekonomian domestik sehingga BI harus menyiapkan bauran kebijakan yang tepat.

Pasar emas memasuki awal pekan dengan nada hati-hati setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik tajam pada penutupan perdagangan terakhir. Tekanan itu membuat ruang penguatan emas tertahan, meski minat lindung nilai belum sepenuhnya hilang.

Kesimpulan dari kejadian ini adalah bahwa keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuannya memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian global, termasuk harga aset kripto dan emas. Oleh karena itu, investor harus tetap waspada dan disiplin dalam menjalankan strategi investasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *