Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 Mei 2026 | Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, kembali menjadi sorotan akhir-akhir ini. Tegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) meningkat, yang berdampak pada harga minyak dunia. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir, sehingga harga minyak mentah AS turun di bawah USD 100 per barel.
Sementara itu, angkatan laut AS dilaporkan telah menemukan sepuluh ranjau yang ditebar Iran di sekitar Selat Hormuz. Ranjau-ranjau tersebut terdiri dari ranjau Maham 3 dan ranjau Maham 7, yang diproduksi secara mandiri oleh angkatan bersenjata Iran.
Iran masih memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS-Israel dan ketegangan diplomatik terkait proposal perdamaian serta program nuklirnya. Blokade ini berdampak pada harga minyak dunia, karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun lebih dari 5% dan ditutup pada USD 98,26 per barel, sedangkan harga minyak patokan internasional Brent berjangka juga turun lebih dari 5% dan ditutup pada USD 105,02 per barel.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas pasokan minyak dunia. AS telah melakukan operasi pembasmian ranjau Iran di Selat Hormuz sejak April lalu, dalam upaya untuk memastikan keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, tekanan antara AS dan Iran terus meningkat. Namun, dengan adanya negosiasi yang sedang berlangsung, harga minyak dunia mulai menurun. Ini menunjukkan bahwa pasar minyak dunia sangat sensitif terhadap perubahan situasi politik dan keamanan di wilayah tersebut.
Situasi di Selat Hormuz masih sangat tidak stabil dan berpotensi berdampak pada harga minyak dunia. Negosiasi antara AS dan Iran merupakan kunci untuk menyelesaikan konflik ini dan memastikan keamanan pelayaran di jalur strategis tersebut.
