Starbucks dan Perjuangan Merek Asing di Tengah Persaingan China

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 05 Juli 2026 | Di tengah persaingan sengit di pasar China, merek asing seperti Starbucks dan Häagen-Dazs terpaksa melakukan strategi baru untuk mempertahankan posisi mereka. Häagen-Dazs, yang dulu menjadi simbol kemewahan terjangkau di mall-mall China, kini harus melepaskan kendali operasionalnya di China kepada investor lokal. Sementara itu, Starbucks, yang telah lama menjadi pemain besar di China, juga melakukan langkah serupa dengan menjual mayoritas saham operasional ritelnya di China kepada Boyu Capital.

Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan asing mulai menyadari pentingnya penyesuaian dengan pasar lokal China. Menurut Hu Ling, kepala divisi konsumen dan ritel AlixPartners untuk Greater China, banyak perusahaan asing yang telah menyadari bahwa merek asing tidak selalu bisa beroperasi dengan baik di China. Oleh karena itu, mereka mulai mencari mitra lokal yang dapat membantu mereka memahami dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan preferensi konsumen China.

Baca juga:

Starbucks, yang telah memiliki lebih dari 41.000 gerai di seluruh dunia, masih memiliki basis yang kuat di Amerika Serikat dan China. Dua negara ini secara bersama-sama menyumbang sekitar 61% dari total gerai Starbucks di seluruh dunia. Namun, persaingan di China yang semakin sengit memaksa Starbucks untuk melakukan inovasi dan penyesuaian untuk mempertahankan posisinya.

Sementara itu, perusahaan lain seperti Burger King dan Yum China juga melakukan langkah serupa dengan membentuk joint venture dengan mitra lokal untuk meningkatkan kemampuan mereka di pasar China. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa perusahaan asing mulai menyadari pentingnya penyesuaian dengan pasar lokal dan mencari mitra yang tepat untuk membantu mereka mencapai kesuksesan di China.

Di Malaysia, Berjaya Food Bhd (BFood) yang merupakan pemilik lisensi Starbucks di Malaysia, juga menghadapi tantangan serupa. Setelah mengalami kerugian di bisnis Paris Baguette Malaysia, BFood memutuskan untuk menjual bisnis tersebut dan fokus pada bisnis Starbucks yang masih menjadi andalan mereka. Namun, dengan meningkatnya persaingan di pasar kopi, BFood harus terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan untuk mempertahankan posisi mereka di pasar Malaysia.

Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan di pasar kopi dan makanan cepat saji semakin sengit, baik di China maupun di negara-negara lain. Perusahaan asing seperti Starbucks dan Häagen-Dazs harus terus beradaptasi dan berinovasi untuk mempertahankan posisi mereka di pasar yang semakin kompetitif. Dengan melakukan penyesuaian dengan pasar lokal dan mencari mitra yang tepat, perusahaan asing dapat meningkatkan kemampuan mereka dan mencapai kesuksesan di China dan negara-negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *