Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 08 Mei 2026 | Film Ghost in the Cell (2026) menghadirkan karakter Prakasa Kitabuming, tahanan elite misterius yang menjadi simbol korupsi dan kekuasaan busuk di balik tembok penjara Labuhan Angsana.
Latar belakang Prakasa menggambarkan transformasi tragis dari aktivis idealis menjadi oligark rakus yang terjerat kasus mega korupsi Rp20 triliun namun tetap hidup mewah di penjara.
Aktor Arswendy Bening Swara menuai pujian atas totalitasnya memerankan Prakasa dengan gaya tenang dan lembut namun berbahaya, menambah kedalaman psikologis karakter ciptaan Joko Anwar.
Prakasa Kitabuming merupakan salah satu karakter sentral dalam Ghost in the Cell. Ia digambarkan sebagai tahanan elite yang mendekam di sel mewah (Blok K). Meski berada di balik jeruji, pengaruhnya tetap terasa besar.
Bahkan, sang kepala sipir takut padanya. Karakter ini diperankan oleh Arswendy Bening Swara, sementara versi mudanya dimainkan oleh Dewa Dayana.
Dalam materi karakter yang diunggah Instagram Joko Anwar, Prakasa disebut sebagai “Pria Solo,” yang langsung mengundang banyak spekulasi dari penonton soal nuansa satitre politik yang dibawa film ini.
Secara naratif, Prakasa bukan sekadar napi biasa. Ia menjadi simbol relasi kuasa yang membusuk. Sosok yang dulu dikenal sebagai aktivis idealis malah berubah menjadi koruptor yang memanfaatkan sistem demi kepentingannya sendiri.
Tak heran, banyak penonton menyebut Prakasa sebagai “hantu” sebenarnya dalam film ini. Bukan karena ia makhluk supernatural yang meneror para tahanan, melainkan karena karakter seperti dirinya terasa begitu dekat dengan realita di negara Indonesia.
Dalam character sheet, latar belakang Prakasa Kitabuming dibuat sangat detail dan tragis. Ia lahir di Solo pada 3 Maret 1965, mirip tanggal lahir seorang tokoh ternama.
Kedua orangtuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga bangsawan Keraton Surakarta. Sejak kecil, Prakasa dibesarkan dengan nilai kehormatan yang sangat kuat.
Prakasa muda kemudian tumbuh menjadi mahasiswa idealis di Universitas Indonesia Utama jurusan Ilmu Sosial dan Politik. Ia dikenal sebagai orator ulung yang aktif menentang rezim Orde Baru dan turun langsung dalam berbagai gerakan mahasiswa.
Namun hidupnya perlahan berubah setelah masuk dunia politik. Idealismenya mulai luntur ketika ia melihat korupsi sebagai sesuatu yang “normal.” Dari politik, ia masuk bisnis tambang batu bara, menjalin kolusi dengan pejabat, aparat, hingga elite kekuasaan demi memperluas pengaruh dan kekayaannya.
Transformasi Prakasa terasa tragis, karena ia berubah dari sosok aktivis menjadi simbol oligarki yang rakus. Ia memiliki vila di luar negeri, apartemen rahasia, koleksi properti mewah, hingga kehidupan pribadi yang dipenuhi skandal perempuan dan korupsi.
Puncaknya terjadi ketika ia terseret kasus mega korupsi Rp20 triliun terkait proyek tambang di Kalimantan. Meski divonis 5 tahun penjara di Labuhan Angsana, hukuman itu terasa ringan di mata publik.
Bahkan, Prakasa tetap hidup nyaman dalam sel mewah. Dalam konteks ini, film Ghost in the Cell tidak hanya menawarkan teror psikologis khas Joko Anwar, tetapi juga menyelipkan kritik sosial-politik yang terasa menampar.
Karakter Prakasa Kitabuming menjadi simbol dari korupsi dan kekuasaan yang membusuk di Indonesia. Ia mengingatkan kita pada betapa berbahayanya korupsi dan bagaimana ia dapat menghancurkan idealisme dan nilai-nilai yang baik.
Kesimpulan dari karakter Prakasa Kitabuming adalah bahwa korupsi dapat mengubah seseorang menjadi monster yang rakus dan berbahaya. Ia menjadi contoh dari bagaimana korupsi dapat menghancurkan kehidupan seseorang dan masyarakat secara luas.
