Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 Mei 2026 | Pemerintah Korea Selatan waswas dengan ancaman mogok kerja yang akan dilakukan oleh 45 ribu pegawai Samsung, karena dikhawatirkan akan menyebabkan kerugian sebesar 100 triliun won atau Rp 1.176 triliun. Sementara itu, di Indonesia, perjuangan hak buruh masih terus berlanjut, seperti yang ditunjukkan oleh kisah Marsinah, seorang buruh perempuan yang menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di era Orde Baru.
Marsinah lahir di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana dan sudah membantu bekerja sejak kecil dengan berjualan gabah dan jagung di pasar. Di sekolah, Marsinah dikenal sebagai murid berprestasi dengan semangat belajar tinggi. Cita-citanya sederhana namun mulia: menjadi sarjana hukum dan membela orang-orang yang tertindas.
Namun, realitas ekonomi keluarga berbicara lebih keras daripada impian. Setelah lulus dari SMA Muhammadiyah 1 Nganjuk pada 1987, Marsinah terpaksa mengubur cita-citanya. Alih-alih melanjutkan ke perguruan tinggi, ia memilih merantau ke Surabaya untuk mencari nafkah. Kehidupan Marsinah di Surabaya dimulai dari pabrik sepatu, sebelum akhirnya ia mendapatkan pekerjaan di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik arloji di Porong, Sidoarjo, pada 1990.
Di tempat kerjanya, Marsinah dikenal vokal dalam menyuarakan ketidakadilan, khususnya terkait upah rendah dan minimnya kesejahteraan pekerja perempuan. Keberaniannya berbicara di tengah budaya kerja yang represif menjadikannya sosok yang disegani sekaligus ditakuti oleh manajemen perusahaan. Puncak perjuangan Marsinah terjadi pada Mei 1993, ketika ia bersama ratusan rekan buruh melakukan aksi mogok kerja menuntut perbaikan kondisi kerja yang lebih manusiawi.
Marsinah kemudian menghilang setelah berpamitan dari lokasi berkumpul rekan-rekannya di Desa Siring, Porong. Tiga hari kemudian, jasadnya ditemukan di sebuah gubuk di wilayah Nganjuk dalam kondisi penuh luka. Kasus pembunuhan Marsinah memicu perhatian nasional dan internasional, namun pelaku utama pembunuhan Marsinah belum terungkap hingga kini.
Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Pemerintah juga berencana meresmikan Museum Marsinah di Desa Nglundo sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya membela hak-hak pekerja di Indonesia.
Kisah Marsinah menjadi pengingat kelam tentang harga mahal yang harus dibayar dalam memperjuangkan hak asasi manusia di tempat kerja. Perjuangan hak buruh masih terus berlanjut, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, seperti Korea Selatan. Mogok kerja massal yang dilakukan oleh pegawai Samsung di Korea Selatan menjadi contoh nyata bahwa perjuangan hak buruh tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain.
Kesimpulan dari kisah Marsinah dan mogok kerja massal di Korea Selatan adalah bahwa perjuangan hak buruh masih terus berlanjut dan bahwa keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan dan memperjuangkan hak-hak pekerja adalah sangat penting. Dengan demikian, kita dapat belajar dari kisah Marsinah dan mogok kerja massal di Korea Selatan untuk terus memperjuangkan hak-hak pekerja dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
