Kurs USD Menguat, Rupiah Melemah: Apa yang Terjadi di Balik Pelemahan Mata Uang Indonesia?

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 19 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Sejumlah bank besar nasional juga mencatat kurs jual dolar AS yang masih berada di kisaran Rp 17.700-an.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan rupiah berpotensi menguat seiring Presiden AS Donald Trump menunda serangan ke Iran. Namun, pelemahan rupiah seiring tren kenaikan harga minyak dunia yang masih di atas 100 dolar AS per barel juga menjadi faktor yang mempengaruhi.

Baca juga:

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali stabil. "Yakin stabil," ujar Perry usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Nilai tukar rupiah pada Selasa pagi bergerak melemah 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.685 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.666 per dolar AS.

Akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari berbagai tekanan global dan domestik yang terjadi bersamaan. Sebuah fenomena yang kerap disebut sebagai "perfect storm."

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik yang memanas di wilayah Timur Tengah memicu ketidakpastian ekonomi dunia. Kondisi tersebut mendorong para investor global untuk menarik modal mereka dari aset berisiko dan mengalihkannya ke aset aman utama (safe haven), yaitu Dolar AS.

Sementara dari sisi domestik, tekanan diperberat oleh faktor musiman, seperti tingginya permintaan valuta asing untuk pembayaran dividen kepada investor asing serta evaluasi pasar terhadap keterbatasan ruang fiskal negara.

RDG BI sendiri diperkirakan akan memutuskan kenaikan suku bunga acuan 25 basis points (bps) menjadi 5 persen. Dengan asumsi kurs di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp16.500 maka tambahan subsidi Rp150 triliun dengan kurs yang terus meningkat dan tidak ada kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) subsidi.

Pelemahan rupiah selain karena kebutuhan dolar musiman, saat ini juga dipengaruhi oleh minat pelaku pasar asing yang menurun terhadap obligasi pemerintah sejalan dengan selisih yield yang menipis dibanding dengan obligasi pemerintah AS.

Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengatasi tekanan pada rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *