Konflik Pembangunan di Tanah Papua: Film Pesta Babi Mengungkap Kondisi Masyarakat Adat

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 18 Mei 2026 | Baru-baru ini, film dokumenter berjudul Pesta Babi menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Film ini menceritakan tentang situasi masyarakat adat Papua saat ini dan konflik pembangunan di tanah Papua. Diketahui film dokumenter ini dibuat oleh Cypri Paju Dale yang bekerja sama dengan Dandhy Laksono.

Mengutip video Cypri pada Ekspedisi Indonesia Baru, disebutkan bahwa film pesta babi adalah sebuah dokumenter yang berbasis penelitian sejarah dan antropologi yang dibalut investigasi jurnalistik serta analisis kebijakan. Kolonialisme sebagai sebuah rangka berpikir atau rangka analisis berhasil merangkum semua masalah itu, dan menjelaskan bahwa semuanya terkait satu sama lain dalam sesuatu yang bersifat sistemik yang sudah berlangsung lama dan tidak bisa ada solusinya kalau hanya diselesaikan dengan menyelesaikan salah satu dari persoalan yang tadi.

Baca juga:

Yasinta Moiwend kaget ketika pada suatu pagi yang tenang di bulan Mei, sebuah kapal raksasa bersandar di dermaga kampungnya. Kapal itu mengangkut ratusan ekskavator dan dikawal tentara Indonesia. Itulah rombongan pertama dari 2.000 alat berat yang datang ke Papua dalam Proyek Strategis Nasional untuk produksi pangan dan energi.

Perempuan suku Marind Anim di Merauke ini tak pernah tahu kalau kampungnya jadi titik nol dimulainya proyek konversi hutan terbesar dalam sejarah dunia modern untuk dijadikan perkebunan industrial atas nama “ketahanan pangan” dan “transisi energi”. Luasnya mencapai 2,5 juta hektar.

Vincen Kwipalo dari suku Yei juga terkejut ketika tanah marganya dipatok dengan tulisan: “Tanah Milik TNI AD”. Belakangan ia tahu, tanah itu diambil untuk pembangunan markas batalyon militer. Karena wilayah adatnya juga termasuk dalam konsesi, Franky Woro dan komunitas Awyu di Boven Digoel memasang palang adat dan salib raksasa yang dicat warna merah untuk menghadang perusahaan dan militer.

Dikenal dengan Gerakan Salib Merah, aksi ini juga dilakukan suku-suku lain. Setidaknya 1.800 salib merah telah dipasang untuk melindungi tanah dan hutan mereka. Meski memakai simbol agama, gerakan ini tidak selalu disukai elit gereja.

Baru-baru ini, rencana kegiatan nonton bareng film Pesta Babi bertema "Rumpin dan Pesta Babi" di Rumpin Eco Park, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, menuai penolakan dari warga dan pemerintah desa setempat. Penolakan itu dituangkan dalam surat pernyataan warga RW 001 Desa Rabak yang menyebut kegiatan yang digelar Himpunan Mahasiswa Rumpin (HMR) pada Sabtu 16 Mei 2026 pukul 19.00 WIB dinilai berpotensi memicu keresahan di tengah masyarakat.

Ketua Ikatan Alumni Himpunan Mahasiswa Rumpin (IKA HMR), Ibnu Mubarok, mengatakan penolakan terhadap kegiatan tersebut terjadi dua kali dalam sehari. Meski begitu, mahasiswa dari sejumlah kampus di Bogor akhirnya tetap menggelar pemutaran film secara terbatas di rumah salah satu kader HMR di wilayah Cipinang, Rumpin.

Kesimpulan dari film Pesta Babi ini adalah bahwa konflik pembangunan di tanah Papua masih menjadi isu yang sangat sensitif dan kompleks. Film ini membuka mata kita tentang bagaimana masyarakat adat Papua masih terus berjuang untuk melindungi tanah dan hutan mereka dari ancaman perusahaan dan militer. Film ini juga menunjukkan bahwa kolonialisme masih menjadi sebuah masalah yang sangat serius di Indonesia, terutama di Papua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *