Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 08 April 2026 | Suasana mencekam melanda kota Tasikmalaya pada sore 8 April 2026 ketika sekelompok massa tak terkendali menyerang Padepokan Saung Taraju Jumantara (STJ). Insiden bermula setelah sebuah video kontroversial yang menyinggung nilai-nilai keagamaan tersebar luas di media sosial, memicu kemarahan warga setempat. Pada pukul 16.30 WIB, kerumunan mulai melempar batu dan menyalakan api pada gudang utama padepokan, yang menyimpan perlengkapan ibadah. Api cepat meluas dan menyebabkan kerusakan berat pada struktur bangunan.
Petugas kepolisian yang dipimpin oleh Kapolres Tasikmalaya segera membentuk satuan khusus untuk memadamkan api dan mengamankan area. Tim pemadam kebakaran berhasil mengendalikan kobaran api pada pukul 19.00 WIB setelah lebih dari dua jam berjuang. Meskipun sebagian besar gudang mengalami kerusakan sekitar 80 persen, api berhasil dipadamkan sebelum menyebar ke bangunan lain di sekitar.
Sebagai dampak lanjutan, rumah doa Kristen yang terletak tidak jauh dari padepokan juga menjadi target. Meskipun tidak terbakar, aparat keamanan memutuskan untuk menyegel bangunan tersebut guna mencegah potensi ancaman lebih lanjut. Warga sekitar melaporkan teriakan dan jeritan yang menambah kepanikan, terutama ketika sejumlah orang mencoba memasuki rumah doa dengan niat merusak.
Selama kerusuhan, lebih dari 150 warga melaporkan kerusakan dan mengajukan permohonan perlindungan kepada pihak berwenang. Salah satu saksi, seorang ibu rumah tangga bernama Siti Aminah, dengan emosional memohon kepada tokoh politik nasional, “Pak Prabowo tolong lindungi kami!” Permintaan ini mencerminkan keputusasaan masyarakat yang merasa terancam dan mengharapkan intervensi dari figur publik yang memiliki pengaruh politik.
Polisi berhasil menangkap dua tersangka yang diduga terlibat dalam pembuatan dan penyebaran video provokatif. Identitas tersangka ketiga masih dalam proses pencarian, dengan bantuan rekaman CCTV yang dipasang di sekitar area padepokan. Penyidikan masih berlangsung untuk mengungkap siapa sebenarnya yang menyebarkan konten tersebut dan memicu aksi massa.
Reaksi tokoh agama pun beragam. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, KH. Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa penyebaran video yang menyinggung agama harus ditindak tegas sesuai hukum. Sementara itu, Pastor Yohanes, pemimpin gereja Kristen setempat, menegaskan bahwa rumah doa mereka tidak menjadi sasaran utama, melainkan menjadi korban collateral dalam situasi yang tidak terkendali.
Permintaan perlindungan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menambah tekanan politik pada pemerintah pusat. Pengamat politik, Dr. Rina Suryani, mencatat bahwa seruan semacam ini dapat menjadi sinyal bagi partai politik untuk meningkatkan kehadiran mereka di wilayah yang rawan konflik sosial.
- Kerusakan material: Gudang Padepokan STJ (sekitar 80% rusak)
- Rumah doa Kristen: Disegel, belum ada kerusakan signifikan
- Jumlah laporan warga: lebih dari 150 laporan
- Penangkapan: 2 tersangka ditahan, 1 tersangka masih dicari
Insiden ini menyoroti tantangan keamanan komunitas multikultural di Indonesia, terutama ketika isu agama dipicu oleh konten digital yang mudah menyebar. Pemerintah daerah berjanji akan meningkatkan koordinasi antarinstansi, termasuk kepolisian, Satpol PP, dan lembaga keagamaan, serta mengadakan dialog lintas agama untuk meredakan ketegangan.
Ke depan, proses pemulihan Padepokan Saung Taraju Jumantara membutuhkan dukungan finansial dan moral dari seluruh elemen masyarakat. Pemerintah daerah telah mengalokasikan dana bantuan sementara untuk memperbaiki fasilitas yang rusak, sementara komunitas setempat diharapkan dapat bersatu kembali dalam semangat toleransi dan kedamaian.
