Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 19 Juli 2026 | Indonesia saat ini sedang mengalami musim kemarau yang parah, menyebabkan kekeringan melanda berbagai wilayah. Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyalurkan bantuan air bersih kepada sembilan desa yang terdampak kekeringan akibat kemarau panjang.
Berdampak pada 4.929 kepala keluarga (KK) atau sekitar 13.985 jiwa, kekeringan tersebut berdampak terhadap lahan pertanian dan ketersediaan air bersih. Sebanyak 904.000 liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan.
Di Jambi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026, dengan potensi penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah. Hal ini meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Bali juga mengalami krisis air bersih dan kebakaran hutan akibat musim kemarau. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mengingatkan masyarakat dan instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.
Untuk mengatasi kekeringan, Pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) membangun Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) berbasis panel surya. Pembangunan JIAT ini menjadi bagian dari strategi pemerintah menjaga produktivitas pertanian di daerah rawan kekeringan.
Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), polisi, dan TNI juga melakukan pembinaan tentang teknik mitigasi bencana di sejumlah daerah terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih di Bangkalan.
Kekeringan melanda Indonesia, namun upaya penanggulangan terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Dengan kerja sama dan kesadaran akan pentingnya konservasi air, diharapkan dampak kekeringan dapat diminimalkan.
