Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 April 2026 | Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah Amerika Serikat memberlakukan blokade militer pada pertengahan April 2026. Dalam dua minggu pertama operasi, sebanyak tiga belas kapal dagang memutuskan untuk berbalik arah demi menghindari risiko konfrontasi, sementara dua kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) masih terperangkap di perairan tersebut, menunggu situasi keamanan membaik.
Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menjelaskan dalam pengarahan di Pentagon bahwa kapal‑kapal yang mendekati zona blokade telah menerima peringatan tegas. “Para kapten membuat keputusan yang bijak untuk tidak melanjutkan transit atau menerobos blokade ini,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kapal yang menolak perintah dapat menghadapi tindakan intervensi, termasuk tembakan peringatan. Hingga kini, tidak ada kapal yang secara langsung diserang, namun operasi intersepsi maritim terus dijalankan dengan dukungan jet tempur, pesawat intelijen, helikopter, dan kapal perang.
Di sisi lain, PT Pertamina mengumumkan bahwa dua tankernya, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyatakan bahwa perusahaan terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri RI, Kedutaan Besar Indonesia di Tehran, serta otoritas terkait di Amerika Serikat dan Iran. “Kami terus memantau situasi yang sangat dinamis dan memastikan komunikasi dengan kru kapal tetap terjaga demi keselamatan mereka,” ujarnya dalam acara Pertamina Sustainability Champions.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa selain upaya diplomatik, perusahaan juga melibatkan Pertamina International Shipping, perusahaan asuransi, dan pihak asuransi untuk menyiapkan langkah operasional bila blokade berakhir. “Jika situasi memungkinkan, kami berharap kapal dapat segera melintasi Selat Hormuz dengan aman,” katanya.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam sebuah wawancara dengan BBC pada 15 Juni 2026, menyiratkan kemungkinan jalur diplomatik kembali terbuka dalam pekan tersebut, menyusul kegagalan perundingan sebelumnya. Pernyataan ini menambah harapan bagi pihak Indonesia yang tengah menunggu keputusan internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran.
Secara keseluruhan, blokade AS telah menyebabkan penurunan signifikan pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz, diperkirakan menurun hingga 95 persen dibandingkan periode sebelum konflik. Dampaknya terasa pada pasar energi global, dengan harga minyak mentah berfluktuasi di sekitar US$100 per barel.
Berikut rangkuman situasi terkini:
- 13 kapal dagang memilih berbalik arah setelah menerima peringatan blokade.
- 2 kapal tanker Pertamina (Pertamina Pride, Gamsunoro) masih tertahan di Selat Hormuz.
- US CentCom belum melakukan intersepsi fisik, namun kesiapan militer tetap tinggi.
- Diplomasi multinasional, termasuk Indonesia, Iran, dan AS, berupaya menemukan solusi damai.
- Harga minyak global mengalami penurunan ringan setelah spekulasi diplomasi.
Kondisi kru kedua tanker Pertamina dilaporkan stabil, meskipun mereka harus menghadapi ketidakpastian panjang. Pertamina memastikan pasokan makanan, air, dan kebutuhan medis tetap terpenuhi, serta melakukan rotasi komunikasi rutin melalui satelit.
Jika situasi keamanan di Selat Hormuz membaik, para kapten yang tersisa di zona tersebut diharapkan dapat melanjutkan pelayaran mereka dengan aman. Sementara itu, komunitas maritim internasional terus menunggu keputusan diplomatik yang dapat mengakhiri blokade dan membuka kembali jalur vital perdagangan energi dunia.
Kesimpulannya, meskipun sebagian besar kapal telah memutuskan untuk berbalik demi keselamatan, dua kapal Pertamina masih menantikan penyelesaian politik. Upaya koordinasi antara pemerintah Indonesia, AS, dan Iran menjadi kunci utama untuk memastikan kapal-kapal tersebut dapat kembali melaju ke pelabuhan tujuan dengan selamat.
