Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 08 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia anjlok sebesar 2,87% pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Pelemahan indeks dipicu oleh aksi lepas saham perbankan besar serta depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar raksasa (big banks) atau kategori KBMI IV kembali berguguran secara masif, yang secara langsung menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ke zona merah dengan koreksi yang sangat dalam.
Investor asing melakukan aksi jual bersih pada saham perbankan dan kapitalisasi besar hingga sesi pertama, Senin, 8 Juni 2026. Emiten TPIA mencatatkan nilai jual bersih tertinggi sebesar Rp 1,14 triliun, disusul BBCA dengan nilai Rp 1,10 triliun.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terus mengalami tren penurunan hingga perdagangan intraday Senin (8/6/2026). Sepanjang perdagangan, BBCA bergerak di rentang 4.850 hingga 5.050, namun hingga sekitar pukul 10.24 sahamnya terpantau berada di level 4.930 atau melemah 2,86 persen.
Padahal, BBCA sempat menyentuh rekor tertinggi pada level Rp10.900 per saham sekitar perdagangan September 2024, dan BBRI sempat menyentuh rekor tertinggi di level Rp6.450 per saham pada perdagangan Maret 2024.
Serupa dengan dua saham bank di atas, Bank Mandiri (BMRI) dan Bank BNI (BBNI) tak mau ketinggalan. Saham BMRI juga terpantau terus mengalami pelemahan dan bergerak di rentang 3.700 hingga 3.900.
Sementara itu, investor asing masih terlihat mengoleksi sejumlah saham lapis kedua. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menjadi emiten yang paling banyak diburu asing dengan nilai net foreign buy mencapai Rp 21,36 miliar.
Proyeksi IHSG turut dipaparkan Senior Analyst Mirae Asset, Muhammad Nafan Aji bahwa Jakarta Composite Index (JCI) Extremely oversold despite a downtrend.
Di saat kondisi seperti ini, hanya 73 saham yang terpantau menguat, 658 saham melemah, dan 79 bergerak stagnan. Market cap bursa pun kini hanya berada di angka Rp9437,389 triliun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih mengalami tekanan hebat, terutama dari saham perbankan besar. Oleh karena itu, investor perlu berhati-hati dalam melakukan transaksi saham dan memantau perkembangan pasar secara terus-menerus.
