BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan dan Angin Kencang di Indonesia

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 Juni 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 21 hingga 22 Juni 2026. Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai dampak hidrometeorologi seperti genangan, luapan air sungai, dan tanah longsor.

Selain potensi hujan lebat, BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang di beberapa daerah, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Baca juga:

BMKG juga menetapkan lima daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus siaga kekeringan meteorologis akibat El Nino yang kian menguat, mengancam ketersediaan air bersih dan meningkatkan risiko kebakaran. Penetapan ini menyusul panjangnya hari tanpa hujan di wilayah tersebut yang dipengaruhi oleh fenomena iklim global El Nino.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas. Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB, Suci Agustiarini, menjelaskan bahwa hari tanpa hujan berturut-turut secara umum berada pada kategori menengah hingga sangat panjang di berbagai wilayah NTB.

Situasi ini mengindikasikan adanya potensi krisis air bersih dan peningkatan risiko kebakaran hutan serta lahan. Oleh karena itu, langkah antisipasi dini sangat diperlukan. BMKG juga memprakirakan peluang hujan masih terbatas pada dasarian III Juni 2026, dengan probabilitas rendah di sebagian wilayah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Masyarakat diimbau untuk bijak dalam penggunaan air dan tidak melakukan pembakaran sembarangan guna mencegah dampak buruk kekeringan yang semakin meluas. BMKG merinci lima daerah yang saat ini berstatus siaga kekeringan meteorologis di NTB, mencakup beberapa kecamatan di berbagai kabupaten.

Kecamatan Sekotong di Kabupaten Lombok Barat, Kecamatan Jonggat di Kabupaten Lombok Tengah, serta Kecamatan Pringgabaya dan Suela di Kabupaten Lombok Timur adalah beberapa di antaranya. Selain itu, Kecamatan Hu’u dan Manggalewa di Kabupaten Dompu, serta Kecamatan Palibelo di Kabupaten Bima juga masuk dalam kategori siaga kekeringan.

Hari tanpa hujan paling panjang tercatat di Stasiun Meteorologi Muhammad Salahuddin, Kabupaten Bima, yang mencapai 35 hari berturut-turut dan dikategorikan sangat panjang. Kondisi ini menunjukkan tingkat keparahan kekeringan di beberapa titik.

Selain status siaga, BMKG juga menetapkan sejumlah kecamatan di Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Kabupaten Bima, dan Kota Bima dalam level waspada kekeringan meteorologis. Meluasnya wilayah yang masuk dalam level siaga dan waspada ini disebabkan oleh hari tanpa hujan yang kian memanjang.

Situasi ini memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak untuk memitigasi risiko yang mungkin timbul akibat kurangnya pasokan air. Masyarakat diharapkan dapat memahami dan mengikuti imbauan yang diberikan oleh BMKG.

Fenomena iklim global El Nino menjadi pemicu utama kekeringan meteorologis yang melanda NTB. Anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di wilayah Nino3.4 menunjukkan El Nino berada pada kategori Moderat dengan indeks +1,40.

Prediksi BMKG menunjukkan bahwa El Nino ini berpotensi bertahan pada kategori Moderat dengan peluang 100 persen, bahkan dapat meningkat menjadi El Nino kuat dengan peluang 86 persen hingga akhir tahun 2026. Selain El Nino, hasil pemantauan Indian Ocean Dipole (IOD) pada dasarian terakhir menunjukkan IOD berada dalam kategori negatif dengan indeks minus 0,49.

IOD ini berpeluang beralih menuju positif mulai Agustus hingga Desember 2026. Kombinasi kedua fenomena iklim ini secara signifikan mempengaruhi pola curah hujan di Indonesia, termasuk NTB.

Prakiraan BMKG untuk dasarian III Juni 2026 menunjukkan peluang hujan masih sangat terbatas, yakni lebih dari 20 milimeter per dasarian, dengan probabilitas sekitar 10 hingga 40 persen di sebagian wilayah Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Kondisi ini memperkuat prediksi akan berlanjutnya periode kering di wilayah tersebut.

Masyarakat perlu memahami bahwa kondisi cuaca ekstrem ini akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Menyikapi kondisi siaga dan waspada kekeringan meteorologis, BMKG mengimbau masyarakat NTB untuk menggunakan air secara bijak.

Penghematan air menjadi krusial untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih yang dapat meluas seiring dengan semakin panjangnya hari tanpa hujan. Setiap tetes air yang dihemat akan sangat berarti dalam menghadapi musim kemarau yang panjang ini.

Kesimpulan, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 21 hingga 22 Juni 2026. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *