Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 Mei 2026 | Pada Jumat, 22 Mei 2026, sebagian besar wilayah Sumatera bagian utara dan tengah mengalami pemadaman listrik massal atau blackout. Peristiwa ini menyebabkan gangguan aktivitas masyarakat, terutama di bidang ekonomi dan komunikasi. PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa gangguan berasal dari jalur transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi yang memicu separated system antara Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Tengah.
Gangguan ini kemudian menimbulkan efek berantai pada sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera. Banyak warga yang terkena dampak langsung, seperti kesulitan beraktivitas dan mengalami gangguan jaringan internet. Telkomsel, salah satu penyedia layanan telekomunikasi, meminta maaf atas penurunan kualitas layanan yang dialami pelanggan di beberapa wilayah Sumatera.
Upaya pemulihan dilakukan secara intensif oleh PLN dengan melibatkan ratusan personel di lapangan. Proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan keamanan sistem agar tidak terjadi gangguan lanjutan. Sebanyak 8,3 juta pelanggan telah kembali menikmati aliran listrik, dan 157 gardu induk dari total 176 gardu induk terdampak telah kembali beroperasi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa proses sinkronisasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara menjadi tahap paling rumit dalam pemulihan sistem kelistrikan Sumatra. Ia menambahkan bahwa gangguan cuaca yang berdampak terhadap sebagian sistem kelistrikan menyebabkan penurunan frekuensi akibat beban pembangkit yang terlalu berat, yang kemudian memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah.
PLN terus bekerja untuk mempercepat proses pemulihan dan memastikan pasokan listrik kepada masyarakat dapat segera pulih kembali secara bertahap dan aman. Dalam proses pemulihan, PLN menerjunkan sekitar 800 petugas kelistrikan yang disebar di tiga provinsi terdampak, yakni Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem kelistrikan di Sumatra masih memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan besar. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan ketahanan infrastruktur publik dan memastikan keberlangsungan layanan dasar ketika krisis terjadi.
