Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 24 Juli 2026 | Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026. Keputusan ini dinilai sesuai harapan pelaku pasar.
Pengamat pasar modal Hendra Wardhana menuturkan bahwa BI Rate tetap di level 5,75% adalah langkah yang sesuai dengan harapan pasar. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi, BI memilih mengedepankan stabilitas dibandingkan mengambil risiko dengan mengubah suku bunga terlalu cepat.
Menurut Hendra, inflasi domestik masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sehingga belum ada urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga. Selain itu, menjaga suku bunga tetap tinggi juga diperlukan untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan Indonesia dan menjaga stabilitas rupiah.
Keputusan mempertahankan BI Rate di level 5,75% juga memberikan sinyal bahwa Bank Indonesia saat ini berada pada fase “wait and see”. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral menilai kebijakan moneter yang ada sudah cukup untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, BI juga mencatat bahwa likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026. Pertumbuhannya mencapai sebesar 8,7 persen secara tahunan, atau menjadi Rp10.432,8 triliun.
Penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,1 persen, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10,8 persen pada Mei 2026. Sementara itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat tumbuh sebesar 10,1 persen, melanjutkan pertumbuhan sebesar 37,4 persen pada Mei 2026.
BI juga melaporkan perkembangan uang primer (M0) adjusted yang pada Juni 2026 tumbuh 13,8 persen, melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 14,2 persen. Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0 persen dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 12,7 persen.
Keputusan mempertahankan BI Rate di level 5,75% juga memiliki dampak pada pasar modal. Strategi taktis yang dimainkan bank sentral ini membuat investor asing diberikan kemudahan proteksi kurs, yang memicu pertanyaan krusial bagi para pelaku pasar modal.
Langkah BI ini juga menciptakan dampak yang tidak merata bagi berbagai sektor emiten di pasar saham. Sektor perbankan sebagai bobot utama pergerakan IHSG menghadapi tekanan dilematis dari struktur biaya dana yang tinggi.
Kesimpulan dari keputusan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% adalah bahwa bank sentral memilih mengedepankan stabilitas dan mempertahankan daya tarik aset keuangan Indonesia. Namun, keputusan ini juga memiliki dampak pada pasar modal dan berbagai sektor emiten di pasar saham.
