Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Mei 2026 | Bank Mandiri (BMRI) mencatat penurunan Return on Equity (RoE) pada kuartal I 2026, namun sekaligus melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 16,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan RoE menjadi sorotan karena biasanya menjadi indikator utama profitabilitas bagi pemegang saham, sementara lonjakan laba bersih menegaskan kemampuan bank dalam mengoptimalkan pendapatan meski menghadapi tekanan biaya.
Data kuartalan menunjukkan RoE BMRI menurun menjadi 19,10% pada Maret 2026, turun dari 19,30% pada Maret 2025. Penurunan ini beriringan dengan penurunan RoE pada beberapa bank besar lainnya, seperti BBCA yang turun menjadi 25,10% dan BBRI yang tetap stabil. Di sisi lain, BBNI mencatat kenaikan RoE menjadi 13,60%.
Meski RoE menurun, laba bersih BMRI naik signifikan menjadi Rp 15,4 triliun, melampaui pertumbuhan tahun sebelumnya yang tercatat 13,7% untuk BBRI dan 5% untuk BBNI. Pertumbuhan laba ini didorong oleh peningkatan kredit produktif sebesar 17,4% YoY serta efisiensi operasional yang terus ditingkatkan melalui digitalisasi layanan perbankan.
Berikut ringkasan kinerja keempat bank besar pada kuartal I 2026:
| Bank | RoE Q1 2025 | RoE Q1 2026 | Laba Bersih (triliun Rp) |
|---|---|---|---|
| Bank Mandiri (BMRI) | 19,30% | 19,10% | 15,4 |
| Bank Rakyat Indonesia (BBRI) | 17,10% | 18,40% | 15,5 |
| Bank Negara Indonesia (BBNI) | 13,30% | 13,60% | 5,6 |
| Bank Central Asia (BBCA) | 26,20% | 25,10% | 14,7 |
Penurunan RoE BMRI diperkirakan dipengaruhi oleh peningkatan Capital Adequacy Ratio (CAR) serta beban kredit macet (CKPN) yang masih berada pada level tinggi. Analis senior dari LPPI, Trioksa Siahaan, menilai bahwa tekanan beban CKPN dapat menahan laju pertumbuhan laba jika tidak diimbangi dengan penurunan biaya dana.
Strategi BMRI ke depan menitikberatkan pada tiga pilar utama: memperluas basis dana ritel, meningkatkan efisiensi melalui otomasi proses, dan memperkuat portofolio kredit berisiko rendah dengan margin tinggi. Direktur Utama BMRI, telah menegaskan komitmen bank untuk mempercepat transformasi digital, yang diharapkan dapat menurunkan biaya operasional sekaligus meningkatkan pendapatan fee‑based.
Dari sisi pasar saham, saham BMRI mengalami penurunan 5,18% dalam perdagangan sepekan terakhir, berada di level Rp 4.390. Investor asing mencatat net sell sebesar Rp 2,32 triliun, menempatkan BMRI sebagai salah satu saham yang paling banyak dijual dalam minggu tersebut. Meskipun demikian, analis Mirae Asset mencatat bahwa fundamental BMRI tetap kuat, terutama karena dukungan kebijakan pemerintah yang menstimulasi penyaluran kredit untuk program infrastruktur dan rumah subsidi.
Secara keseluruhan, penurunan RoE tidak serta merta mengindikasikan kelemahan fundamental, melainkan refleksi dari kebijakan prudensial yang menyeimbangkan pertumbuhan kredit dengan kualitas aset. Dengan laba bersih yang terus tumbuh dan fokus pada digitalisasi, Bank Mandiri berada pada posisi yang relatif solid untuk menghadapi tantangan ekonomi global serta persaingan domestik.
