Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 04 Mei 2026 | Pemerintah Kota Bekasi mengumumkan percepatan pembangunan flyover Bulak Kapal usai tragedi kereta listrik (KRL) yang menewaskan 16 penumpang di Stasiun Bekasi Timur pada akhir April 2026. Wali Kota Tri Adhianto menegaskan bahwa proyek tersebut kini menjadi prioritas utama karena mengatasi titik rawan tabrakan antara jalur kereta api dan lalu lintas kendaraan di kawasan industri dan pemukiman padat.
Menurut data resmi, flyover ini memerlukan lahan seluas lebih dari satu hektar, yakni sekitar 10.000 meter persegi, yang membentang dari Jalan HM Joyo Martono hingga area Lapas Bulak Kapal. Untuk mengamankan lahan tersebut, pemerintah daerah menyiapkan anggaran pembebasan sebesar Rp 116 miliar. Proses akuisisi lahan dijadwalkan selesai pada akhir Mei 2026, dengan harapan konstruksi dapat dimulai segera setelahnya.
Presiden Prabowo Subianto telah menyoroti kurangnya sistem pengamanan di lebih dari 1.800 pelintasan sebidang kereta api di Pulau Jawa. Kecelakaan antara KRL jurusan Cikarang (PLB 5568A) dan KA Argo Bromo Anggrek ini menjadi contoh konkret mengapa flyover diperlukan. Prabowo menegaskan bahwa pemerintah pusat akan menyalurkan dana hingga Rp 4 triliun untuk memperkuat pos jaga, pemasangan pintu pengaman otomatis, serta pembangunan flyover di lokasi‑lokasi berisiko tinggi.
Koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat telah melibatkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono. Dalam pertemuan terakhir, diputuskan bahwa selain dukungan finansial, akan ada peninjauan teknis untuk memastikan desain flyover memenuhi standar keselamatan internasional. Tri Adhianto menyampaikan bahwa bantuan presiden masih menunggu detail bentuknya, apakah berupa dana tunai atau bantuan fisik berupa material dan tenaga ahli.
- Luas lahan yang dibutuhkan: >1 hektar (≈10.000 m²)
- Biaya pembebasan lahan: Rp 116 miliar
- Anggaran total proyek (termasuk konstruksi): diperkirakan Rp 361 miliar
- Target penyelesaian pembebasan: akhir Mei 2026
- Target operasional flyover: akhir 2027
Kecelakaan pada 27 April 2026 menewaskan 16 orang dari 106 penumpang KRL, sementara 90 lainnya mengalami luka. Semua penumpang KA Argo Bromo Anggrek selamat. Insiden ini memicu protes masyarakat yang menuntut perbaikan infrastruktur transportasi dan peningkatan pengamanan lintasan kereta api.
Wali Kota Tri Adhianto menegaskan bahwa selain flyover, pemerintah kota juga akan menutup pelintasan Ampera‑Bulak Kapal yang dianggap paling berbahaya sampai alternatif yang lebih aman selesai dibangun. Penutupan tersebut diharapkan mengurangi risiko tabrakan lebih lanjut dan memberikan ruang bagi proses pembebasan lahan.
Dengan percepatan proyek, diharapkan flyover Bulak Kapal tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, melainkan menjadi bagian integral jaringan transportasi modern Bekasi. Flyover ini akan menghubungkan wilayah Timur Kota Bekasi dengan jalur utama tol, mempermudah mobilitas komuter, serta menurunkan tingkat kemacetan yang selama ini menjadi keluhan warga.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, serta dukungan politik dari tokoh nasional menunjukkan tekad kuat untuk mengatasi masalah keamanan transportasi di wilayah metropolitan Jabodetabek. Jika berhasil, flyover Bulak Kapal dapat menjadi model bagi proyek serupa di kota‑kota lain yang menghadapi tantangan pelintasan kereta api.
