Zendaya Tinggalkan Met Gala 2026: Fokus pada Proyek Film Besar dan Pemulihan Fisik

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 04 Mei 2026 | Met Gala 2026 yang dijadwalkan pada 4 Mei 2026 di Metropolitan Museum of Art, New York, kembali menjadi sorotan utama dunia mode dan hiburan. Tahun ini tema “Costume Art” menuntut para tamu mengekspresikan fashion sebagai karya seni, sementara dress code “Fashion is Art” mengundang interpretasi kreatif dari selebriti internasional. Namun, kehadiran dua ikon besar, Zendaya dan Meryl Streep, dipastikan tidak muncul di karpet merah, menambah dinamika dan perdebatan di sekitar acara.

Zendaya, yang selama tujuh tahun berturut‑turut menjadi bintang utama Met Gala, memilih untuk absen. Keputusan ini diambil setelah penilaian menyeluruh terhadap jadwal kerja yang sangat padat. Pada akhir 2025 hingga awal 2026, bintang muda ini menuntaskan tur promosi film “The Drama” dan melanjutkan syuting musim ketiga serial hit “Euphoria”. Kedua proyek menuntut jam kerja yang panjang, sesi foto, serta proses fisik yang intens. Menurut informasi yang beredar, Zendaya mengalami kelelahan akumulatif dan memutuskan untuk memberi tubuhnya waktu istirahat agar dapat kembali tampil prima.

Baca juga:

Selain faktor kesehatan, Zendaya juga tengah mempersiapkan beberapa proyek film berskala besar yang dijadwalkan rilis pada akhir 2026. Salah satunya adalah film aksi‑petualangan yang diproduksi oleh studio Hollywood terkemuka, di mana ia akan memerankan peran utama yang menuntut persiapan fisik intensif, termasuk latihan bela diri dan stunt. Dengan agenda tersebut, mengalokasikan waktu untuk persiapan kostum Met Gala yang biasanya memakan berjam‑jam dianggap tidak realistis.

Meryl Streep, aktris legendaris yang juga diperkirakan absen, menolak hadir karena menentang prinsip artistik terkait sponsor utama acara. Jeff Bezos dan istrinya, Lauren Sanchez Bezos, menjadi sponsor kehormatan Met Gala 2026, memicu protes luas dari aktivis yang menyoroti isu ketenagakerjaan di Amazon serta keterlibatan politik sang miliarder. Streep menyatakan bahwa kehadirannya dapat mengaburkan nilai seni acara, sehingga memilih untuk tidak berpartisipasi.

Kontroversi sponsor menjadi latar belakang penting yang memengaruhi keputusan sejumlah selebriti. Boikot simbolik muncul di sekitar lokasi acara, termasuk poster dan instalasi seni yang menyinggung praktik bisnis Amazon. Meskipun Anna Wintour, ketua penyelenggara, berupaya meredam ketegangan, tekanan publik tetap terasa kuat.

Berikut rangkuman faktor utama yang memicu absennya Zendaya dan Meryl Streep:

  • Jadwal kerja padat: Tur promosi film, syuting serial, dan persiapan proyek film besar.
  • Kebutuhan pemulihan fisik: Menghindari kelelahan berlebih dan menjaga performa di layar lebar.
  • Prinsip artistik: Penolakan terhadap sponsor yang dianggap mengkomersialkan acara.
  • Tekanan publik: Seruan boikot terhadap Jeff Bezos dan dampak politiknya.

Meski dua bintang tersebut tidak hadir, daftar tamu Met Gala 2026 tetap memukau. Beyonce, Nicole Kidman, dan Venus Williams ditunjuk sebagai co‑chair, sementara artis seperti Sabrina Carpenter, Doja Cat, dan Zoë Kravitz masuk dalam jajaran tamu. Pameran utama Costume Institute menampilkan lebih dari 400 busana yang mencerminkan evolusi seni pakaian selama 5.000 tahun, menjanjikan pertunjukan visual yang spektakuler.

Keputusan Zendaya untuk fokus pada pemulihan dan proyek film besar sekaligus menolak tekanan penampilan di Met Gala menegaskan pentingnya keseimbangan antara karier dan kesehatan pribadi. Sikap ini mendapat pujian dari penggemar yang menghargai transparansi artis dalam mengelola beban kerja. Sementara itu, perdebatan mengenai sponsor Jeff Bezos menandai era baru di mana nilai sosial dan etika semakin memengaruhi pilihan kehadiran di acara bergengsi.

Secara keseluruhan, Met Gala 2026 tetap menjadi panggung utama pertemuan fashion, seni, dan industri hiburan, meski hadirnya beberapa nama besar terhalang oleh faktor kesehatan, prinsip, dan kontroversi sponsor. Penonton global akan menyaksikan bagaimana para co‑chair dan tamu lainnya menginterpretasikan tema “Costume Art” dalam konteks sosial yang semakin kompleks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *