Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Mei 2026 | Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan rencana ambisius untuk menggantikan sistem perlintasan kereta api manual dengan teknologi pintu digital perlintasan di seluruh provinsi. Pengadaan yang diperkirakan menelan biaya antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar ini diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan di perlintasan sebidang, khususnya setelah tragedi kereta api di Bekasi yang menewaskan puluhan korban.
Menurut pernyataan yang disampaikan pada acara Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Dedi menegaskan bahwa perlintasan yang saat ini dioperasikan secara manual melibatkan kelompok orang yang membuka dan menutup palang secara fisik, seringkali memanfaatkan posisi tersebut untuk memperoleh keuntungan pribadi. “Perlintasannya masih manual, diangkat dan ditutupnya oleh orang. Saya sudah meminta Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat untuk melakukan pengadaan dan pemasangan palang pintu digital, sehingga tidak perlu lagi ada orang yang berjaga di sana,” ujarnya.
Rencana instalasi pertama akan difokuskan di wilayah Bekasi, kota yang baru-baru ini menjadi saksi tragedi kereta komuter (KRL) yang menabrak kendaraan di perlintasan. Dedi Mulyadi memerintahkan Wali Kota Bekasi untuk memastikan bahwa palang digital dijaga oleh petugas resmi, bukan oleh pihak tidak resmi. Ia menambahkan, “Memerlukan waktu dua minggu untuk melakukan pengadaan dan pemasangan. Saya katakan kerjakan mulai hari ini. Biayanya antara Rp500 juta sampai Rp1 miliar.”
- Keunggulan pintu digital perlintasan: otomatisasi penutup/pembuka berdasarkan sinyal kereta, mengurangi faktor manusia.
- Pengurangan biaya operasional jangka panjang karena tidak memerlukan penjaga tetap.
- Peningkatan keamanan bagi pejalan kaki, pengendara motor, dan kendaraan umum.
Selain Bekasi, Gubernur juga menargetkan instalasi serupa di beberapa titik rawan lain, seperti perlintasan di Bandung, Cirebon, dan Tasikmalaya. Ia menekankan bahwa proyek ini tidak hanya sekadar mengganti peralatan, melainkan juga melibatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya mematuhi aturan perlintasan.
Analisis kecelakaan kereta di wilayah Jawa Barat menunjukkan bahwa sebagian besar insiden terjadi pada perlintasan tanpa sistem peringatan otomatis. Kecelakaan di Bekasi, yang dipicu oleh pengemudi taksi online yang lalai menurunkan palang manual, menjadi pemicu kuat bagi pemerintah provinsi untuk mempercepat transformasi digital ini.
Dalam rapat koordinasi bersama Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, dan Badan Keamanan Transportasi, telah disusun jadwal kerja dua minggu untuk tahap pertama. Proses meliputi: (1) Pengadaan perangkat lunak dan perangkat keras, (2) Instalasi sensor deteksi kereta, (3) Integrasi dengan sistem kontrol pusat, dan (4) Uji coba operasional sebelum penyerahan kepada petugas lapangan.
Jika berhasil, model pintu digital perlintasan ini berpotensi direplikasi di provinsi lain, menjadikan Jawa Barat pelopor inovasi keselamatan transportasi di Indonesia. Dedi Mulyadi menutup pernyataannya dengan harapan, “Dengan teknologi ini, kita dapat menghindari tragedi serupa di masa depan dan menciptakan jaringan transportasi yang lebih aman dan efisien bagi seluruh warga Jawa Barat.”
