Sanksi Kapal Israel: 70 Kapal Disita, 175 Aktivis Ditahan, Dua Warga Asing Dipulangkan ke Israel

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 03 Mei 2026 | Israel kembali menjadi sorotan dunia setelah Angkatan Lautnya menegakkan sanksi kapal terhadap armada bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Pada Kamis, 22 kapal yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan di Eropa seperti Barcelona, Sisilia, dan pelabuhan lain di Mediterania berhasil dicegat di perairan internasional dekat Pulau Kreta. Hingga kini, total 70 kapal berada di bawah pengawasan Israel dan 175 aktivis yang berada di atas kapal‑kapal tersebut ditahan.

Armada Global Sumud Flotilla, yang mengibarkan bendera Palestina, berupaya menembus blokade laut yang diberlakukan Israel sejak 2007. Setiap kapal membawa kira‑kira satu ton bantuan berupa makanan, obat‑obatan, dan perlengkapan darurat dengan tujuan mengurangi krisis kemanusiaan yang melanda lebih dari 2,4 juta penduduk Gaza. Namun, upaya tersebut berujung pada penyitaan kapal, penahanan aktivis, dan pengembalian dua warga asing ke wilayah Israel untuk interogasi lanjutan.

Baca juga:

Dua warga asing yang dipulangkan adalah Saif Abu Keshek, seorang keturunan Palestina‑Spanyol, dan Thiago Avila, warga Brasil. Kedua orang itu kini berada di Israel dan akan menjalani proses penyelidikan lebih lanjut. Sementara itu, sebanyak 168 aktivis lainnya telah dibawa ke pulau Kreta oleh otoritas Yunani setelah mendapat persetujuan, sedangkan sisa aktivis masih menunggu keputusan selanjutnya.

Insiden ini memicu reaksi keras dari sejumlah negara. Spanyol dan Brasil mengeluarkan pernyataan bersama pada 1 Mei, menuduh Israel melakukan penculikan warga negaranya di perairan internasional, tindakan yang mereka sebut melanggar hukum internasional dan dapat diajukan ke pengadilan internasional. Turki menyebut aksi tersebut sebagai pembajakan, sementara Jerman, Italia, dan Malaysia menyatakan keprihatinan mendalam serta mendesak pembebasan semua tahanan.

  • Spanyol – menuntut pemulangan Saif Abu Keshek dan jaminan keamanan.
  • Brasil – menuntut pemulangan Thiago Avila serta akses konsuler.
  • Turki – mengutuk tindakan Israel sebagai pembajakan.
  • Jerman – mengajak dialog diplomatik untuk mengakhiri penahanan.
  • Italia – menyuarakan keprihatinan atas kondisi para aktivis.

Laporan media lokal mengindikasikan setidaknya 31 aktivis mengalami luka selama penahanan yang berlangsung hampir 40 jam. Aktivis melaporkan kekurangan air dan makanan, dipaksa tidur di lantai basah, serta mengalami tindakan kekerasan berupa tendangan, pukulan, dan penembakan suara yang menambah trauma psikologis.

Organisasi Global Sumud Flotilla menegaskan bahwa dua aktivis yang dibawa kembali ke Israel hanyalah sebagian kecil dari total aktivis. Mereka menambahkan bahwa sebagian besar aktivis kini berada di Kreta dan menunggu proses penurunan atau interogasi lanjutan. Pihak organisasi menekankan bahwa misi mereka tidak mendukung Hamas, melainkan hanya bertujuan menyalurkan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk sejak serangan militer besar‑besaran yang dimulai pada Oktober 2023. Lebih dari 72.000 warga tewas dan lebih dari 172.000 luka, sementara blokade ketat menahan masuknya bantuan penting. Penahanan aktivis menambah beban psikologis bagi masyarakat Gaza yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Kementerian Luar Negeri Israel memberikan penjelasan resmi bahwa armada tersebut berafiliasi dengan organisasi yang dianggap terhubung dengan terorisme, sehingga penangkapan dianggap sah dalam rangka keamanan nasional. Amerika Serikat, melalui Departemen Luar Negeri, menuduh armada Global Sumud Flotilla berpotensi menjadi alat propaganda Hamas, sambil menegaskan dukungan penuh terhadap kebijakan keamanan Israel.

Namun, komunitas internasional tetap menuntut transparansi dan penghormatan terhadap hukum humaniter. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa penolakan akses bantuan dapat memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat rapuh. Beberapa negara Barat dan Timur sedang melakukan diplomasi intensif untuk mencari solusi yang menghormati hukum internasional sekaligus mengurangi penderitaan warga sipil.

Di antara aktivis Indonesia, Maimon Herawati, yang menjadi bagian dari komite steering Global Sumud Flotilla, menekankan prioritas utama saat ini adalah penanganan medis bagi korban luka serta upaya diplomatik untuk membebaskan dua aktivis yang masih ditahan di Israel. “Kami berharap dunia tidak melupakan penderitaan rakyat Gaza dan tidak membiarkan aksi intimidasi menghalangi upaya bantuan kemanusiaan,” ujarnya.

Ke depan, organisasi kemanusiaan berencana melanjutkan misi mereka dengan armada lain, meskipun risiko penangkapan serupa tetap ada. Tekanan diplomatik dari negara‑negara Barat dan Timur terus berlanjut, dengan harapan dapat menemukan solusi yang menghormati hukum internasional dan mengurangi penderitaan warga sipil di Gaza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *