Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 09 April 2026 | Di sebuah kontrakan sederhana tiga petak di kawasan Warakas, Jakarta Utara, seorang pria berusia lebih dari 70 tahun berkeliling menjual mainan anak sambil duduk di kursi roda. Ia adalah Sutarno, yang lebih dikenal dengan nama panggung Pak Tarno, mantan pesulap televisi dan pemenang gelar Master dalam ajang The Master yang dipandu Deddy Corbuzier.
Empat kali serangan stroke yang dialaminya sejak akhir 2024 membuat kondisi fisik Pak Tarno semakin lemah. Ia mengaku masih merasakan kelumpuhan di bagian tubuh kiri, kelelahan kronis, serta sesekali kesulitan berbicara. Meski begitu, ia menolak untuk menjalani terapi medis yang disarankan dokter. Keluarganya, terutama istrinya Lisa, menyatakan bahwa Pak Tarno lebih memilih “kerja keras” di jalanan daripada perawatan yang terasa membebani secara finansial dan emosional.
Setiap pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, Lisa mendorong kursi roda suaminya sambil mengatur barang‑barang dagangan: celengan, bola‑bola, pancingan, mobil‑mobilan, serta peralatan menulis dan buku gambar. Mereka berkeliling ke pasar, sekolah dasar, dan lapangan bermain di sekitar Warakas. “Senang keliling, kalau di jalan itu ramai,” ujar Lisa, menegaskan bahwa interaksi dengan anak‑anak dan warga sekitar memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Pak Tarno.
Aktivitas jual‑beli ini tidak semata‑mata untuk mencari uang. Pak Tarno mengaku bahwa “jual mainan” menjadi cara baginya untuk tetap aktif, mengalirkan energi, dan menunggu harapan sembuh. Namun, realita ekonomi tidak dapat diabaikan. Kontrakan yang mereka tempati menuntut cicilan sebesar Rp1,4 juta per bulan. Pendapatan dari penjualan mainan serta sedikit bantuan dari tetangga cukup untuk menutupi biaya tersebut, tetapi tidak menyisakan banyak untuk kebutuhan lain.
Rumah tiga petak itu memiliki ruang tamu di bagian depan, ruang tengah yang diubah menjadi dapur, serta kamar tidur kecil dengan kasur berukuran sedang. Kamar mandi terletak di samping kasur pasangan ini. Di belakang, terdapat area sempit untuk menempatkan kursi roda berisi barang‑barang dagangan. Kondisi kontrakan yang sederhana ini memperlihatkan betapa Pak Tarno dan Lisa harus mengatur segala sesuatunya secara praktis, tanpa mengorbankan kebutuhan dasar.
Selain kebutuhan materi, Pak Tarno juga menghadapi tantangan psikologis. Setelah mengalami stroke, ia merasa “lemas” dan “suara kecil” akibat usia yang sudah lanjut. Meski begitu, semangatnya tidak padam. Ia sering mengulang mantra sulapnya, “Dibantu ya, bimsalabim jadi apa, prok‑prok‑prok,” sebagai upaya menumbuhkan rasa percaya diri saat berinteraksi dengan orang‑orang di pinggir jalan.
Keluarga terdekatnya menegaskan bahwa mereka tidak menolak bantuan medis secara keseluruhan, melainkan menolak prosedur terapi yang dianggap terlalu berat atau mahal. “Dia ingin tetap bergerak, bukan terbaring di rumah sakit,” kata Lisa. Keputusan ini menimbulkan perdebatan di kalangan netizen; sebagian mengkritik penolakan terapi, sementara yang lain memuji keberanian Pak Tarno untuk tetap produktif meski kondisi fisik menurun.
Video Pak Tarno berjualan di kursi roda menjadi viral pada Oktober 2024, menampilkan sosoknya yang ramah sambil menawarkan mainan kepada anak‑anak sekolah dasar. Viralitas tersebut meningkatkan simpati publik, namun tidak serta merta mengubah situasi keuangannya. Sebagian warganet mengirimkan donasi secara anonim, namun tidak cukup untuk menutupi seluruh cicilan dan kebutuhan medisnya.
Situasi Pak Tarno menggambarkan dilema antara kebutuhan ekonomi, keinginan untuk mempertahankan kemandirian, dan tantangan kesehatan kronis pada lansia. Dengan menolak terapi formal, ia memilih jalan yang lebih “aktif” dan “bermakna” bagi dirinya, meskipun hal ini dapat memperpanjang proses pemulihan. Keluarga dan masyarakat sekitar tetap mendukungnya lewat bantuan moral, bantuan makanan, serta pembelian barang dagangan.
Ke depan, Pak Tarno berharap dapat terus menjual mainan, berinteraksi dengan anak‑anak, dan pada akhirnya menemukan cara yang tepat untuk pulih tanpa harus mengorbankan martabatnya sebagai pekerja keras. Sementara itu, Lisa berkomitmen untuk terus mendampingi suaminya, mengatur penjualan, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, meski tantangan kesehatan terus menghantui.
Kasus Pak Tarno menjadi cermin nyata tentang bagaimana orang‑orang lanjut usia yang pernah memiliki karier gemerlap kini harus menyesuaikan diri dengan realitas hidup sederhana, sambil tetap menjaga semangat hidup dan kebahagiaan pribadi.
