Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 April 2026 | Jakarta, 27 April 2026 – Senin pagi ini JPNN.com menyoroti lima berita terpopuler yang menggambarkan dinamika sosial‑ekonomi Indonesia. Sorotan utama jatuh pada masalah gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu yang kini tergolong dalam kemiskinan ekstrem, capaian penurunan angka kemiskinan ekstrem secara nasional, serta kunjungan tokoh‑tokoh penting ke Istana Negara untuk memohon bantuan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, mengungkapkan dalam konferensi DPD GMNI Sulbar di Mamuju bahwa sejumlah PPPK paruh waktu menerima upah di bawah Rp400 ribu per bulan, jauh di bawah standar kelayakan. “Ada yang menjadi tenaga honorer atau PPPK paruh waktu dengan penghasilan sangat minim, bahkan di bawah Rp400 ribu per bulan, yang itu masuk kategori kemiskinan ekstrem,” ujarnya pada Sabtu (25/4/2026). Kondisi ini tidak hanya menurunkan motivasi kerja, tetapi juga menambah beban ekonomi rumah tangga yang sudah rapuh.
Data terbaru dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) menunjukkan penurunan signifikan dalam angka kemiskinan ekstrem. Menko Muhaimin Iskandar, yang lebih dikenal dengan sebutan Cak Imin, melaporkan bahwa pada September 2025 angka tersebut turun menjadi 0,78 persen atau sekitar 2,2 juta jiwa, dibandingkan 1,26 persen pada Maret 2024. Penurunan ini mencerminkan upaya terpadu lintas kementerian, termasuk bantuan sosial yang menjangkau 8,56 juta keluarga, program padat karya yang melibatkan dua juta orang, serta dukungan pembiayaan untuk UMKM.
Meski capaian ini patut disyukuri, Cak Imin menegaskan masih ada tantangan besar. Sekitar 774 ribu keluarga masih berada di luar jangkauan program bantuan, terutama di wilayah Kulonprogo, Garut, Bogor, Cirebon, dan Cianjur. Pemerintah menargetkan pencapaian nol persen kemiskinan ekstrem pada tahun 2026, sesuai Instruksi Presiden No. 8 Tahun 2025 yang menugaskan Kemenko PM sebagai koordinator utama.
- Anggaran APBN: Rp503,2 triliun
- Anggaran APBD: Rp129 triliun
- Bantuan sosial: 8,56 juta keluarga (93,6% target)
- Program padat karya: 2 juta peserta
- UMKM: 2 juta debitur baru mendapat permodalan
Di samping upaya kebijakan, dinamika politik juga muncul. Beberapa tokoh masyarakat dan pengusaha mengunjungi Istana Negara pada Senin sore, meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat implementasi program‑program penanggulangan kemiskinan serta memberikan perhatian khusus kepada PPPK paruh waktu yang berada dalam kemiskinan ekstrem. Mereka menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta agar alokasi dana dapat sampai ke lapisan paling membutuhkan.
Menurut catatan rapat, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan ekstrem hingga nol persen, namun juga mengingatkan perlunya pengawasan ketat terhadap efektivitas program. Ia mengajak semua pemangku kepentingan untuk “merajut ulang” kebijakan yang belum optimal, memastikan bantuan tepat sasaran, dan memperkuat mekanisme akuntabilitas.
Berita lain yang turut menjadi perbincangan meliputi peningkatan infrastruktur layanan dasar: 99,4 persen kecamatan telah memiliki puskesmas, 82,3 persen desa memiliki layanan pendidikan dasar, dan 89 persen kecamatan memiliki akses pendidikan menengah. Selain itu, 10.171 unit rumah telah dibangun atau direnovasi melalui program bantuan stimulan perumahan swadaya, memberikan harapan baru bagi keluarga yang sebelumnya terpuruk.
Dengan latar belakang tersebut, tantangan gaji PPPK paruh waktu yang berada di zona kemiskinan ekstrem menjadi sorotan utama. Pemerintah daerah diharapkan meninjau kembali struktur remunerasi, sambil tetap memperkuat program pemberdayaan ekonomi yang dapat meningkatkan daya beli pekerja non‑ASN. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memicu ketidakpuasan sosial dan menghambat pertumbuhan produktivitas nasional.
Secara keseluruhan, lima berita terpopuler hari ini mencerminkan upaya pemerintah Indonesia dalam menurunkan angka kemiskinan ekstrem, sekaligus menyoroti kesenjangan yang masih ada, khususnya bagi PPPK paruh waktu. Keterlibatan tokoh‑tokoh penting di Istana menandakan adanya tekanan politik untuk mempercepat reformasi kebijakan. Langkah selanjutnya akan sangat bergantung pada koordinasi lintas sektor serta keberanian pemerintah daerah dalam menyesuaikan kebijakan gaji agar tidak lagi menempatkan pekerja di zona kemiskinan.
