Tragedi ART loncat Benhil: Satu Meninggal, Satu Patah Tangan, Korban Asal Brebes dan Batang

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 25 April 2026 | Jakarta Pusat – Pada malam Rabu, 22 April 2026, dua asisten rumah tangga (ART) perempuan melompat dari lantai empat sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir (Benhil). Salah satu korban tewas di tempat, sementara yang lainnya mengalami patah tangan dan masih dirawat di RS Angkatan Laut dr. Mintohardjo.

Identitas korban terungkap melalui keterangan saksi dan dokumen yang ditemukan di lokasi. Salah satu perempuan, berinisial R, memiliki KTP yang menunjukkan asalnya dari Brebes, Jawa Tengah. Korban lainnya, berinisial D, berasal dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kedua wanita tersebut baru bekerja beberapa hari hingga tiga bulan di kos tersebut, menjadikan mereka pekerja migran yang masih menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Baca juga:

Warga sekitar, termasuk seorang penghuni bernama Thamrin, mendengar lima kali suara benda jatuh sebelum menemukan kedua ART tergeletak di tanah. Salah satu korban terletak dalam posisi tengkurap, sedangkan yang lain terbaring miring sambil memegangi pergelangan tangan yang tampak luka. Thamrin langsung menghubungi tetangga dan ketua RT, serta memanggil ambulans. Tim medis tiba dalam hitungan menit dan membawa korban ke rumah sakit terdekat.

Setelah tiba di RS Mintohardjo, D dinyatakan meninggal dunia akibat luka parah yang tidak dapat diselamatkan. R, yang mengalami patah tangan, berhasil menjalani penanganan awal dan kini berada dalam perawatan intensif. Ia sempat memberikan keterangan singkat kepada penyidik, menyebutkan keinginan untuk melarikan diri dari rumah kos karena merasa tidak betah dengan kondisi kerja.

Polisi Metro Jakarta Pusat, dipimpin Kasat Reskrim AKBP Roby Heri Saputra, masih menyelidiki penyebab pasti tindakan nekat tersebut. Dugaan awal menyebutkan adanya tekanan atau perlakuan tidak manusiawi di lingkungan kerja, meski belum ada bukti konklusif. Kombes Iman Imanuddin dari Polda Metro Jaya menegaskan bahwa timnya sedang mengumpulkan data, termasuk memeriksa apakah korban pernah dikurung di kamar kos sebelum melompat.

  • Waktu kejadian: sekitar pukul 23.00 WIB, Rabu 22 April 2026.
  • Lokasi: Jalan Bendungan Walahar Buntu No. 32, Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
  • Korban: D (18 tahun, asal Batang) – meninggal; R (30 tahun, asal Brebes) – patah tangan.
  • Penyebab: Masih dalam penyelidikan; dugaan melarikan diri karena kondisi kerja.

Kasus ini menambah daftar insiden serupa yang menimpa pekerja rumah tangga migran di ibu kota. Banyak pihak menyerukan peningkatan perlindungan hukum bagi ART, termasuk pengawasan ketat terhadap majikan dan penyedia kos. Pemerintah daerah dan organisasi non‑pemerintah telah menekankan pentingnya sosialisasi hak-hak pekerja migran serta akses mudah ke layanan bantuan hukum.

Sementara proses autopsi dan penyelidikan kriminal masih berlangsung, keluarga D dari Batang telah menunggu proses pemulangan jenazah. Kepala Desa Ngroto, Siam Susanto, menyatakan kesiapan desa untuk menjemput jenazah setelah hasil otopsi selesai. Sementara itu, R terus menjalani perawatan di rumah sakit, dengan harapan dapat pulih sepenuhnya.

Kasus ART loncat Benhil ini menjadi peringatan keras tentang kondisi kerja yang belum sepenuhnya aman bagi pekerja migran, terutama perempuan yang sering kali berada dalam posisi rentan. Diperlukan langkah konkret dari pemerintah, lembaga penegak hukum, dan masyarakat untuk mencegah tragedi serupa terjadi di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *