Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 25 April 2026 | Bentrok Walenrang kembali menjadi sorotan utama setelah kerusuhan yang melibatkan dua desa di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, pecah pada sore hari Senin, 22 April 2026. Konflik yang bermula dari perselisihan lahan pertanian ini cepat menyebar, menimbulkan kerusuhan massal yang melibatkan puluhan warga. Polisi setempat terpaksa mengerahkan satuan khusus untuk menahan laju kekerasan, sementara penduduk desa yang terlibat bersitegang di sepanjang jalan utama yang menghubungkan kedua wilayah tersebut.
Kapolres Luwu, Kombes Pol. Andi Prasetyo, melaporkan bahwa aparat mengamankan area perbatasan dua desa sejak pukul 15.00 WIB. Polisi menempatkan pos pemeriksaan dan melakukan patroli intensif guna mencegah eskalasi lebih lanjut. Sementara itu, Camat Walenrang, Drs. H. Abdul Kadir, menyatakan bahwa bentrok tersebut telah menghentikan aktivitas panen selama dua hari penuh. “Kami mengimbau semua pihak untuk menenangkan diri, karena ketidakstabilan ini langsung memengaruhi ketahanan pangan daerah,” ujar beliau dalam konferensi pers singkat.
Menurut data Dinas Pertanian Luwu, luas lahan padi yang seharusnya dipanen pada minggu ini mencapai 1.200 hektar, namun karena bentrok Walenrang, petani terpaksa menunda pemotongan gabah. Kondisi cuaca yang masih mendukung pertumbuhan padi tidak dapat dimanfaatkan karena petani takut terjebak dalam kerusuhan. Sebagian ladang bahkan mengalami kerusakan akibat kerusuhan, di mana traktor dan alat panen lain rusak atau hilang.
Dampak ekonomi terasa cepat. Harga gabah di pasar tradisional Walenrang turun dari Rp 9.500 per kilogram menjadi hanya Rp 7.800 per kilogram dalam kurun waktu 48 jam. Pedagang pasar melaporkan penurunan volume penjualan hingga 40 persen, karena para petani menahan hasil panen mereka demi menghindari penjualan dengan harga yang merugikan. Analisis singkat dari Balai Pangan setempat memperkirakan kerugian total mencapai sekitar Rp 2,3 miliar jika tren penurunan harga terus berlanjut.
Petani setempat menyuarakan keprihatinan mereka melalui koordinator kelompok tani, Bapak Jafar Kahar, yang menegaskan bahwa penurunan harga gabah sekaligus ketidakpastian panen dapat memicu krisis pangan di wilayah pedesaan. “Kami butuh intervensi cepat dari pemerintah, baik dalam bentuk mediasi antarwarga maupun bantuan keuangan untuk menstabilkan harga pasar,” pungkasnya. Pemerintah Kabupaten Luwu telah mengumumkan rencana bantuan subsidi pupuk dan penyaluran paket bantuan pangan bagi keluarga yang terdampak.
Ke depan, pihak berwenang berjanji akan memperketat pengamanan di kedua desa dan menggelar pertemuan mediasi yang melibatkan tokoh adat, aparat keamanan, serta perwakilan petani. Diharapkan dengan penyelesaian damai, aktivitas panen dapat kembali normal dalam waktu satu minggu ke depan, sehingga pasokan gabah tidak lagi terhambat dan harga pasar dapat pulih ke level yang lebih adil bagi para petani.
