Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 23 April 2026 | Leicester City resmi terdegradasi ke EFL League One pada Kamis, 23 April 2026, menandai penurunan paling dramatis dalam sejarah klub sejak menjuarai Premier League pada musim 2015/2016. Pemilik klub, Aiyawatt Srivaddhanaprabla, yang menggantikan almarhum ayahnya Vichai Srivaddhanaprabha, mengeluarkan permintaan maaf publik kepada suporter atas kegagalan total tim.
Laga penentu melawan Hull City menjadi titik balik yang tak dapat dihindari. Tim asuhan Gary Rowett hanya membutuhkan kemenangan untuk mengamankan zona aman, namun pertandingan berakhir imbang 1-1. Kekalahan ini menambah jarak selisih poin menjadi 7 poin dari zona selamat dengan hanya dua pertandingan tersisa, menjadikan degradasi tak terelakkan.
- Kegagalan meraih hasil krusial pada laga penentuan melawan Hull City.
- Selisih poin yang tidak dapat dikejar di akhir musim, tertinggal 7 poin dengan dua pertandingan tersisa.
- Dampak pengurangan poin akibat pelanggaran finansial yang menambah beban kompetitif.
- Manajemen klub yang tidak stabil, termasuk pergantian pelatih yang berulang dan kebijakan rekrutmen yang kurang tepat.
Penurunan performa tidak terjadi secara tiba‑tiba. Sejak wafatnya Vichai Srivaddhanaprabha pada tahun 2018, klub mengalami kekosongan kepemimpinan visioner. Aiyawatt, meski berusaha melanjutkan warisan ayahnya, dinilai kurang tegas dalam mengambil keputusan strategis. Keputusan-keputusan penting sering kali diwarnai kebingungan internal, seperti pemecatan pelatih Marti Cifuentes pada fase kritis dan penundaan pengisian posisi manajer selama 24 hari.
Di sisi finansial, klub menerima penalti poin setelah terbukti melanggar aturan keuangan UEFA dan Football League. Pengurangan poin ini tidak hanya memperparah posisi klasemen, tetapi juga menimbulkan beban beban gaji pemain tinggi yang tidak sebanding dengan kontribusi di lapangan. Sebagai contoh, beberapa pemain dengan gaji besar gagal mencetak gol atau membantu pertahanan, sementara lini belakang mencongkoki 67 kebobolan, tercatat terbanyak di liga.
Frekuensi pergantian pelatih menjadi faktor lain yang signifikan. Sejak 2022, Leicester City telah mengganti manajer hingga tujuh kali, termasuk Gary Rowett, Marti Cifuentes, dan interim coach lainnya. Ketidakkonsistenan taktik dan filosofi permainan membuat pemain kebingungan, menghambat pembentukan identitas tim yang solid. Hal ini tercermin dari catatan 1 kemenangan dari 18 laga terakhir pada musim 2025/2026.
Komposisi skuad juga tidak ideal. Klub masih mengandalkan pemain veteran dengan kontrak mahal, sementara kurangnya penyerang murni yang konsisten membuat lini serang lemah. Kebijakan rekrutmen yang tidak selaras dengan kebutuhan taktis memperparah krisis identitas, membuat The Foxes kehilangan daya saing di setiap kompetisi.
Reaksi suporter pun tak dapat dihindari. Sorakan ejekan terdengar bahkan sebelum kickoff, mencerminkan kekecewaan mendalam. Insiden pemain Harry Winks beradu mulut dengan fans setelah kekalahan melawan Portsmouth menegaskan keretakan hubungan antara tim dan pendukung. Aiyawatt Srivaddhanaprabha dalam permohonan maafnya menyatakan komitmen untuk “memulihkan kehormatan klub” dan menjanjikan restrukturisasi manajerial serta audit keuangan menyeluruh.
Ke depan, Leicester City harus menata kembali struktur kepemimpinan, menurunkan beban gaji, dan menemukan filosofi permainan yang konsisten. Jika klub berhasil mengatasi tantangan internal, mereka memiliki peluang untuk bangkit kembali ke Championship dan, pada akhirnya, kembali ke Premier League. Namun, tanpa perubahan fundamental, risiko terpuruk lebih lama di League One akan terus menghantui masa depan The Foxes.
