Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 April 2026 | Insiden tendangan kungfu yang dilakukan oleh Fadly Alberto, pemain Bhayangkara FC U-20, pada menit ke‑81 laga Elite Pro Academy (EPA) U‑20 melawan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, memicu kegemparan di kalangan pecinta sepak bola. Aksi tersebut berupa tendangan keras ke punggung Rakha Nurkholis, pemain Dewa United, dan langsung viral di media sosial. Banyak netizen menilai aksi itu melanggar sportivitas dan mencoreng citra sepak bola muda di Indonesia.
Jacksen F. Tiago, mantan pelatih Timnas Indonesia dan kini Direktur Akademi Borneo FC, memberikan respons yang tak sekadar mengutuk tindakan individu. Dalam pernyataannya di Instagram, ia menekankan bahwa insiden ini adalah cerminan lebih luas dari sistem pembinaan yang masih belum matang. Menurutnya, sepak bola tidak hanya soal teknik dan taktik, melainkan juga pembentukan karakter, psikologis, dan kemampuan komunikasi pemain.
Tiago menegaskan bahwa “Sepak bola dimainkan oleh manusia. Kita tidak hanya membentuk pemain, tetapi juga membentuk pribadi.” Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan—klub, federasi, pelatih, dan orang tua—untuk meninjau kembali kurikulum pelatihan. Ia menyarankan integrasi program psikologi olahraga dengan tenaga ahli, serta workshop karakter yang rutin diadakan di setiap akademi.
Selain menyoroti pentingnya aspek mental, Jacksen juga mengingatkan bahaya era digital. Tanpa pendampingan yang tepat, pemain muda mudah terjebak dalam tekanan media sosial, yang dapat memicu perilaku agresif seperti tendangan kungfu tersebut. Ia mengusulkan adanya tim pendamping yang terdiri dari psikolog, konselor, dan mentor yang memahami dinamika dunia maya.
Walaupun publik menuntut sanksi tegas terhadap Fadly Alberto, Tiago berpendapat bahwa hukuman moral yang sudah diterima keluarga pemain sudah cukup berat. Ia mengajak semua pihak untuk tidak terpaku pada hukuman semata, melainkan menggunakan insiden ini sebagai momentum memperbaiki sistem. “Piala bisa berkarat, tetapi karakter akan bertahan seumur hidup,” ujarnya.
Beberapa langkah konkret yang diusulkan Tiago antara lain:
- Penambahan modul psikologi olahraga dalam kurikulum EPA.
- Pelatihan intensif tentang sportivitas dan etika bagi pemain dan ofisial.
- Pembentukan unit pendamping digital untuk memantau interaksi pemain di media sosial.
- Evaluasi rutin atas perilaku pemain melalui survei anonim.
Dengan pendekatan holistik, diharapkan generasi pemain muda Indonesia tidak hanya menghasilkan bintang lapangan, tetapi juga individu yang berintegritas. Insiden tendangan kungfu menjadi pelajaran berharga bahwa pembinaan manusia harus berada di atas segalanya.
