Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 April 2026 | Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan kolaborasi strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) senilai Rp1,3 triliun untuk memperkuat produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Tanah Air. Investasi tersebut menargetkan pembentukan ekosistem baterai lokal yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mencakup pembuatan sel, modul, serta perakitan battery pack di pabrik Karawang.
Kerja sama ini tidak hanya meningkatkan kandungan lokal, tetapi juga menjadikan Indonesia basis ekspor baterai EV pada paruh kedua 2026. Menurut Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julyanto, kemampuan produksi sel dan modul yang sebelumnya diimpor akan dialihkan ke tenaga kerja Indonesia, memperkuat daya saing industri otomotif nasional sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.
Fasilitas baru akan menambah kapasitas produksi battery pack yang selama ini hanya melayani model hybrid seperti Kijang Innova Zenix HEV, Veloz HEV, dan Yaris Cross HEV. Dengan dukungan teknologi CATL, lini produksi diproyeksikan mampu menghasilkan baterai dalam bentuk utuh maupun komponen terpisah yang siap diekspor ke pasar global. Ekspor diperkirakan dimulai pada semester II 2026, mencakup baterai yang terpasang pada kendaraan serta komponen sel dan modul.
Berikut beberapa poin utama dari kolaborasi ini:
- Investasi: Rp1,3 triliun untuk pembangunan fasilitas sel dan modul di Karawang.
- Target lokalitas: Peningkatan kandungan lokal hingga lebih dari 70% dalam tiga tahun pertama.
- Ekspor: Penjualan baterai ke pasar internasional dijadwalkan mulai Juli‑Desember 2026.
- Lapangan kerja: Penambahan sekitar 2.500 tenaga kerja terampil di sektor manufaktur baterai.
Pertumbuhan kendaraan elektrifikasi di Indonesia terus melaju. Data GAIKINDO mencatat penjualan EV sepanjang 2025 mencapai 177.367 unit, naik 71 % dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total produksi domestik, sekitar 127.420 unit merupakan kendaraan listrik, dengan segmen hybrid menyumbang lebih dari 75 % pasar. Ketersediaan baterai lokal diharapkan menurunkan biaya produksi, mempercepat adopsi kendaraan listrik, serta mengurangi ketergantungan pada impor komponen bernilai tinggi.
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, menekankan bahwa transformasi rantai pasok ini tidak hanya menguntungkan Toyota, melainkan juga membuka peluang bagi pemasok lokal untuk berintegrasi dalam ekosistem global. “Dengan memperkuat rantai pasok dalam negeri, Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumen, melainkan pemain utama dalam industri kendaraan elektrifikasi dunia,” ujarnya dalam konferensi pers di NICE, PIK 2, Tangerang.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi bahan baku dan komponen strategis. Pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah industri otomotif hingga 2028, serta mengurangi defisit perdagangan melalui ekspor produk berteknologi tinggi. Ekspor baterai dari Indonesia diharapkan dapat menyumbang signifikan pada neraca perdagangan, sekaligus menegaskan posisi negara sebagai simpul penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara Toyota dan CATL menandai era baru bagi industri otomotif Indonesia. Dengan ekosistem baterai lokal yang kuat, TMMIN tidak hanya memperkuat posisi domestik, tetapi juga menyiapkan pijakan strategis untuk bersaing di pasar internasional. Keberhasilan proyek ini akan menjadi tolok ukur penting bagi upaya elektrifikasi nasional dan transisi energi berkelanjutan.
