Ikan Sapu-sapu Masih Berkeliaran di Kali Cideng Usai Pembersihan Besar-Besaran

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 21 April 2026 | Pada pagi hari Selasa, 21 April 2026, tim pemantau Kumparan kembali menyaksikan keberadaan ikan sapu-sapu yang masih berjemur di tepi Kali Cideng, tepatnya di depan kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Meskipun operasi penangkapan massal yang digelar pada Jumat, 17 April 2026 berhasil menyita hampir 7 ton ikan, sejumlah ekor masih bertahan di aliran sungai. Fenomena ini menegaskan betapa sulitnya mengendalikan spesies invasif yang telah mengubah dinamika ekosistem perairan perkotaan.

Operasi penangkapan serentak yang melibatkan lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta menurunkan total 68.880 ekor ikan sapu-sapu, setara dengan 6.979,5 kilogram. Berikut rincian tangkapan per wilayah:

Baca juga:
  • Jakarta Selatan: 63.600 ekor (5,3 ton) – Pintu Air Outlet Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah.
  • Jakarta Timur: 4.128 ekor (0,826 ton) – 10 titik kecamatan.
  • Jakarta Pusat: 536 ekor (0,565 ton) – tujuh titik kecamatan.
  • Jakarta Utara: 545 ekor (0,271 ton) – Saluran PHB RW 06, Kelapa Gading Barat.
  • Jakarta Barat: 71 ekor (0,017 ton) – Kali Anak TSI, Duri Kosambi.

Petugas menggunakan beragam metode, mulai dari jaring, jala tebar, seser, hingga penangkapan manual di lubang sarang ikan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menegaskan bahwa operasi berlangsung dari pukul 07.30 hingga 11.00 WIB dan melibatkan 640 personel.

Namun, hasil pengamatan pada pukul 08.30 WIB di lokasi menunjukkan beberapa ekor ikan berukuran besar masih berkeliling aliran. Keberadaan mereka menimbulkan pertanyaan: apakah upaya pembersihan sudah cukup atau masih diperlukan serangkaian tindakan lanjutan?

Di sisi lain, Pemerintah Kota Jakarta Selatan mempercepat penangkapan di Setu Babakan. Setelah berhasil menangkap 5,3 ton pada operasi pertama, wali kota Muhammad Anwar memerintahkan tim untuk kembali turun ke lapangan dua kali seminggu, setiap Selasa dan Jumat. Targetnya adalah menurunkan populasi hingga sekitar lima ton lagi. Anwar menambahkan, ikan yang ditangkap harus dimatikan terlebih dahulu sebelum dikubur, mengingat keberatan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait praktik penguburan hidup-hidup.

Penelitian ilmiah menyoroti dimensi lain dari masalah ini. Studi yang dipublikasikan oleh Dewi Elfidasari dkk. mengungkap nilai gizi tinggi pada daging ikan sapu-sapu, termasuk protein dan kolagen. Namun, para peneliti memperingatkan risiko kontaminasi logam berat—seperti merkuri, timbal, dan kadmium—yang terakumulasi di perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung. Konsentrasi logam ini, bila melebihi ambang batas, dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius bagi konsumen.

Para ahli kesehatan menyarankan agar konsumsi ikan sapu-sapu hanya diperbolehkan bila berasal dari budidaya bersih atau perairan yang terbebas polusi. Di sisi industri, kulit ikan yang kaya kolagen menawarkan peluang pengolahan menjadi produk kecantikan, yang dianggap lebih aman daripada mengonsumsinya secara langsung.

Peneliti BRIN, Triyanto, menambahkan bahwa keunggulan adaptasi ikan sapu-sapu tidak sekadar toleransi oksigen rendah, tetapi juga lapisan kitin keras yang menyerupai “baju besi”. Struktur ini membuat predator alami kesulitan memangsanya, sehingga populasi mereka dapat melonjak di lingkungan yang telah rusak. Lebih lanjut, ikan ini dapat mengambil udara melalui saluran pencernaan, memungkinkan mereka bertahan di kondisi anoksik.

Observasi lapangan menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu kini menjadi semacam “alarm ekologi”—tanda perairan Jakarta berada di bawah tekanan pencemaran yang tinggi. Keberadaan mereka di Kali Cideng, meski setelah upaya pembersihan masif, menegaskan bahwa solusi jangka panjang memerlukan perbaikan kualitas air, penegakan regulasi limbah, serta program edukasi publik tentang bahaya spesies invasif.

Dengan kombinasi operasi penangkapan, regulasi yang ketat, dan upaya restorasi ekosistem, diharapkan populasi ikan sapu-sapu dapat terkendali, sekaligus meningkatkan kualitas air bagi warga Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *