Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 20 April 2026 | Pemerintah Kota Bogor semakin giat memperkuat jaringan perkeretaapian setelah Wali Kota Dedie A. Rachim menggelar pertemuan penting dengan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono, pada Jumat (17/4/2026). Diskusi tersebut menitikberatkan pada rencana pengembangan akses baru melalui Stasiun Ciomas Rancamaya, yang diharapkan menjadi titik strategis untuk memperpendek jarak tempuh antara Bogor dan Bandung.
Stasiun Ciomas Rancamaya, yang terletak di wilayah selatan Bogor, diproyeksikan menjadi pintu masuk alternatif bagi penumpang yang ingin melintasi jalur Bogor‑Bandung tanpa harus melewati jalur utara yang kini mengalami kepadatan tinggi. Dalam pertemuan, Wali Kota menegaskan kesiapan Pemkot Bogor untuk mendukung pembangunan stasiun tersebut, termasuk integrasi dengan program perumahan melalui pembangunan rumah susun di sekitarnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyoroti kebutuhan penataan perlintasan sebidang di kawasan MA Salmun dan Kebon Pedes. Penutupan perlintasan sebidang di MA Salmun diusulkan bersamaan dengan pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) untuk memastikan mobilitas tetap lancar dan aman. Sementara itu, di Kebon Pedes direncanakan pembangunan underpass sebagai solusi jangka panjang, meski masih memerlukan kajian teknis dan proses pembebasan lahan.
Upaya pengembangan infrastruktur perkeretaapian tidak lepas dari dukungan KAI Commuter. Pada hari yang sama, KAI Commuter mengumumkan penutupan sementara peron 6 hingga 8 di Stasiun Bogor untuk memfasilitasi pembangunan sky bridge yang akan menghubungkan Stasiun Bogor, Stasiun Paledang, dan Alun‑Alun Kota Bogor. Untuk mengantisipasi penutupan tersebut, KAI Commuter menyiapkan akses alternatif melalui JPO Paledang serta menambah fasilitas masuk‑keluar di area peron aktif.
Penguatan jaringan kereta juga didukung oleh program pengadaan rangkaian KRL baru. KAI Commuter menargetkan pengadaan 30 rangkaian KRL baru dengan anggaran Rp5 triliun, serta 10 rangkaian tambahan yang diproduksi oleh PT INKA dan CRRC Qingdao Sifang. Penambahan ini akan meningkatkan kapasitas angkut, terutama di jalur Bogor‑Bandung, yang diproyeksikan menyerap lebih banyak penumpang dengan kereta berkapasitas 12 gerbong.
Berikut rangkuman poin‑poin utama yang menjadi fokus dalam rangkaian kebijakan ini:
- Stasiun Ciomas Rancamaya dijadikan akses baru untuk memperpendek waktu tempuh Bogor‑Bandung.
- Pembangunan rumah susun terintegrasi di sekitar stasiun guna mendukung kebutuhan perumahan.
- Penutupan perlintasan sebidang di MA Salmun dengan pembangunan JPO sebagai solusi sementara.
- Pembangunan underpass di Kebon Pedes untuk mengurangi konflik lintas jalur.
- Penutupan peron 6‑8 Stasiun Bogor dan penyediaan akses alternatif melalui JPO Paledang.
- Pengadaan 30 rangkaian KRL baru serta 10 rangkaian tambahan untuk meningkatkan kapasitas layanan.
Implementasi proyek‑proyek ini diharapkan tidak hanya mempercepat konektivitas antar kota, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan kenyamanan penumpang. Dengan sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Perhubungan, dan KAI Commuter, jaringan perkeretaapian Bogor‑Bandung diproyeksikan menjadi contoh pengembangan infrastruktur transportasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, langkah-langkah strategis ini menandai komitmen kuat Pemkot Bogor untuk menjadikan Stasiun Ciomas Rancamaya sebagai gerbang utama yang menghubungkan wilayah selatan Jawa Barat dengan pusat ekonomi dan pendidikan di Bandung. Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, warga Bogor dapat menikmati perjalanan yang lebih cepat, aman, dan nyaman menuju Bandung, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi regional melalui mobilitas yang lebih efisien.
