Emil Dardak Serukan Momentum Reformasi Usai Tiga Kepala Daerah Jatim Terjaring OTT KPK, Sektor Manufaktur Tunjukkan Pertumbuhan Pesat

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 April 2026 | Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, pada Rabu (16/4/2026) menegaskan bahwa penangkapan tiga kepala daerah di provinsi ini oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam enam bulan terakhir menjadi titik tolak penting bagi pemerintah provinsi untuk memperkuat pengawasan internal dan sekaligus mempercepat reformasi birokrasi.

Ketiga pejabat yang kini berada di balik jerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK adalah:

Baca juga:
  • Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, ditangkap terkait dugaan suap jabatan di rumah sakit daerah serta fee proyek senilai sekitar Rp1,25 miliar.
  • Wali Kota Madiun, Maidi, ditangkap karena diduga melakukan pemerasan, gratifikasi, serta manipulasi fee proyek dan CSR.
  • Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo, ditangkap atas dugaan pemerasan kepala OPD dan pengaturan proyek infrastruktur senilai Rp5 miliar, yang baru terealisasi Rp2,7 miliar.

Emil Dardak menyatakan keprihatinannya atas rangkaian kasus tersebut dan menekankan bahwa peristiwa ini harus menjadi peringatan serius bagi seluruh pemerintah daerah. “Kami akan menjadikan ini sebagai momentum untuk melakukan pembenahan tata kelola, memperkuat sistem pengawasan internal, dan menutup celah‑celah yang dapat dimanfaatkan untuk korupsi,” ujarnya dalam media briefing bersama Kementerian Keuangan di Nganjuk.

Beberapa langkah konkret yang sudah direncanakan antara lain meningkatkan monitoring atas program‑program pembangunan, memperketat prosedur pengadaan barang dan jasa, serta meninjau kembali mekanisme penentuan jabatan dan perencanaan anggaran. Koordinasi intensif dengan KPK melalui Deputi Pencegahan dan Monitoring juga akan terus dipertahankan, sementara tim internal provinsi akan melakukan audit mendadak pada proyek‑proyek yang berisiko tinggi.

Di sela‑sela upaya penertiban korupsi, Emil Dardak menyoroti perkembangan positif sektor manufaktur di Jawa Timur. Menurut data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2025, manufaktur menyumbang 31,32 % dari total PDRB provinsi, menjadikannya kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Data ekspor non‑migas pada tahun 2025 mencatat nilai US$30,4 miliar, melampaui impor sebesar US$14,44 miliar. Ekspor utama meliputi perhiasan, bahan kimia, kayu, kertas, lemak dan minyak hewan, serta produk perikanan, dengan pasar utama di Tiongkok, Amerika Serikat, dan Swiss. Berikut ringkasan nilai ekspor dan impor:

Tahun Ekspor (US$ miliar) Impor (US$ miliar)
2025 30,4 14,44

Emil menegaskan bahwa pertumbuhan manufaktur tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi 3,58 % tenaga kerja provinsi. “Industri manufaktur memiliki kemampuan nilai tambah yang tinggi, sehingga dapat menjadi penyangga utama ketika kondisi global mengalami guncangan,” katanya.

Dengan kombinasi upaya pencegahan korupsi yang lebih ketat dan pemanfaatan potensi ekonomi berbasis manufaktur, Emil Dardak berharap Jawa Timur dapat menapaki jalur pembangunan yang lebih bersih, transparan, dan berkelanjutan. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa semua pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pelaku usaha, dapat berperan aktif dalam mewujudkan tata kelola yang lebih baik demi kemajuan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *