Al Hilal Tertunduk, Al Sadd Angkat Gelar AFC Champions League Usai Kemenangan Dramatis di Final

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 April 2026 | Konfrontasi dua raksasa sepak bola Asia, Al Hilal dari Arab Saudi melawan Al Sadd dari Qatar, menjadi sorotan utama pada final AFC Champions League 2023/2024. Pertandingan yang dijadwalkan pada 24 April 2024 di stadion megah Riyadh ini menyuguhkan drama, taktik cerdas, dan momen-momen menegangkan yang akhirnya menorehkan kemenangan tipis bagi Al Sadd dengan skor 2-1.

Sejak awal, kedua tim menunjukkan tekad kuat. Al Hilal yang dibawah asuhan Simone Inzaghi mengandalkan skuad berbintang, termasuk penyerang asal Prancis Karim Benzema yang baru bergabung dan legenda sepak bola Cristiano Ronaldo di klub saudara Al Nassr yang mengintip. Di sisi lain, Al Sadd dipimpin oleh mantan pemain Italia Roberto Mancini, yang membawa pengalaman melatih tim nasional Italia ke level klub Asia. Kedua pelatih berhadapan dalam duel pertama mereka di kompetisi ini, menambah bumbu taktis dalam pertarungan tersebut.

Baca juga:

Dalam fase grup, Al Hilal tampil dominan dengan tiga kemenangan dan satu hasil imbang, mencatatkan total 10 poin. Sementara Al Sadd menempuh jalur lebih berliku, dengan dua kemenangan, satu imbang, dan satu kekalahan, namun berhasil lolos berkat selisih gol yang lebih baik. Statistik head-to-head menunjukkan dominasi Al Hilal di pertemuan sebelumnya, dengan 4 kemenangan, 1 hasil imbang, dan 1 kekalahan melawan Al Sadd dalam lima pertemuan terakhir di kompetisi klub Asia.

Menjelang final, prediksi skor beragam. Beberapa analis menilai Al Hilal memiliki keunggulan ofensif, terutama melalui Benzema yang tengah mencetak gol penting di fase knockout. Namun, catatan defensif Al Sadd yang solid, dipimpin oleh bek veteran Abdelkarim Hassan, menjadi faktor penyeimbang. Prediksi umum menilai pertandingan berpotensi berakhir 1-1 atau 2-1 dengan kemenangan tipis bagi salah satu tim.

Babak pertama dimulai dengan tekanan tinggi dari Al Hilal. Pada menit ke-12, Benzema hampir membuka keunggulan lewat tembakan satu-satu yang meleset tipis dari sudut gawang. Namun, aksi cepat Al Sadd tidak tinggal diam. Pada menit ke-27, Al Sadd mencetak gol pembuka melalui serangan balik yang dipimpin oleh penyerang asal Brasil, Rafael Santos Borré, yang menaklukkan bek Al Hilal dan melepaskan tembakan keras ke sudut kanan atas. Gol tersebut memberi kepercayaan diri pada tim tuan rumah dan memaksa Al Hilal untuk menyesuaikan taktik.

Menanggapi keunggulan lawan, Inzaghi mengganti formasi menjadi lebih menyerang, menurunkan pemain sayap muda, Fahad Al-Muwallad, ke posisi depan. Tekanan tersebut akhirnya terbayar pada menit ke-55 ketika Benzema berhasil menyamakan kedudukan lewat tendangan penalti setelah pelanggaran di kotak penalti. Sayangnya, momen krusial muncul ketika Benzema gagal mengeksekusi penalti tersebut; tembakan meleset ke samping tiang gawang, menambah tekanan mental pada skuad Al Hilal.

Setelah penalti yang gagal, Al Sadd kembali menguasai tempo pertandingan. Pada menit ke-71, Borré menambah keunggulan timnya lewat gol kedua setelah menerima umpan terobosan dari gelandang tengah Al Sadd, Abdelkader El Khannouss. Gol tersebut mengunci keunggulan 2-1 dan memaksa Al Hilal berjuang keras di sisa waktu.

Menjelang menit akhir, Al Hilal mencoba memanfaatkan serangan balik cepat, namun pertahanan Al Sadd yang disiplin berhasil menahan gelombang serangan. Wasit menutup pertandingan dengan peluit akhir, menandai gelar pertama Al Sadd di AFC Champions League sejak era modern kompetisi.

Kemenangan Al Sadd membawa implikasi penting bagi sepak bola Asia. Roberto Mancini, yang menjadi pelatih pertama asal Italia yang meraih gelar di kompetisi ini, mendapat pujian atas taktik pragmatisnya, mengandalkan serangan balik cepat dan pertahanan kompak. Di sisi lain, kegagalan Al Hilal, terutama kegagalan penalti Benzema, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan mental tim menjelang turnamen internasional lainnya, termasuk Piala Dunia Klub FIFA.

Selain itu, hasil ini berdampak pada persaingan regional di antara klub-klub Arab. Al Nassr, yang dipimpin oleh Cristiano Ronaldo, kini melihat peluang untuk menantang Al Sadd dalam kompetisi domestik Saudi, sementara Al Hilal harus mengevaluasi kembali skuad dan strategi mereka untuk kembali ke puncak.

Secara statistik, final ini mencatat total 12 tembakan, dengan Al Sadd menguasai 7 di antaranya dan mencetak dua gol dari tiga tembakan tepat sasaran, sedangkan Al Hilal hanya mencetak satu gol dari lima tembakan tepat sasaran. Kepemilikan bola hampir seimbang, dengan Al Sadd menguasai 52% dibandingkan 48% milik Al Hilal.

Dengan gelar tersebut, Al Sadd menambah koleksi trofi internasionalnya dan memperkuat posisi mereka sebagai salah satu klub paling berpengaruh di Timur Tengah. Sementara Al Hilal harus kembali ke papan gambar, memperbaiki kelemahan mental, dan menyiapkan diri untuk musim kompetisi selanjutnya.

Keberhasilan Al Sadd sekaligus menegaskan bahwa kompetisi AFC Champions League kini semakin terbuka lebar, memberi peluang bagi klub-klub non-tradisional untuk menantang dominasi klub-klub Timur Tengah tradisional. Pertarungan selanjutnya akan memperlihatkan apakah Al Hilal dapat bangkit kembali atau Al Sadd akan mempertahankan kejayaan mereka di panggung Asia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *