Garuda Pertiwi Terkapar 1-7, Desakan Revitalisasi Liga Putri Menggema Kembali

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 April 2026 | Stadion Ratchaburi, Thailand menjadi saksi pahit bagi Tim Nasional Putri Indonesia pada Minggu (12/4/2026) ketika Garuda Pertiwi tersungkur dengan skor 1-7 melawan Republik Demokratik Kongo dalam laga semifinal FIFA Series 2026. Kekalahan telak ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan atas performa tim di level internasional, namun juga memicu sorotan tajam terhadap kondisi sepak bola wanita di Tanah Air yang selama ini belum memiliki kompetisi liga reguler.

Dalam pertandingan tersebut, Claudia Scheunemann berhasil mencetak gol pertama lewat penalti, memberi harapan sejenak bagi tim asuhan pelatih asal Jepang, Satoru Mochizuki. Namun, dominasi Kongo tidak dapat diganggu gugat. Marveille Kanjinga, Flavine Mawete, Yav Kasaj, Olga Massombo, serta Feza Jeannette masing‑masing menambah gol, menjadikan selisih tujuh gol yang mematikan. Kekalahan ini menurunkan peringkat FIFA Garuda Pertiwi menjadi 109, empat posisi turun dari posisi sebelumnya.

Baca juga:

Setelah kejatuhan tersebut, tim segera mempersiapkan laga perebutan tempat ketiga melawan New Caledonia yang dijadwalkan pada Rabu, 15 April 2026 pukul 16.00 WIB di stadion yang sama. Pertandingan akan disiarkan secara langsung melalui SCTV dan platform streaming Vidio. New Caledonia, yang sebelumnya kalah 4-0 dari Thailand, menempati peringkat FIFA 101, sehingga pertemuan ini diprediksi akan berlangsung sengit dan menjadi peluang bagi Garuda Pertiwi mengumpulkan poin penting serta memperbaiki citra internasional.

Di luar lapangan, mantan penggawa Arema FC Putri, Sabrina Mutiara (lahir 6 Desember 1999), kembali mengangkat suara menuntut kembalinya kompetisi liga putri di Indonesia. Melalui akun media sosial pribadinya, Mutiara menyoroti kemajuan negara tetangga yang sudah berhasil menyelenggarakan liga berkelanjutan, lengkap dengan fasilitas stadion yang memadai dan layanan live streaming yang profesional. “Kapan Indonesia seperti ini. Stadion sudah bagus, live streaming juga oke, kapan, Pak? Jangan tahun depan terus,” tulisnya, menekankan keinginan agar PSSI tidak menunda lagi upaya pengembangan sepak bola wanita.

Sejak Liga 1 Putri terakhir beroperasi pada 2019, kompetisi tersebut terhenti akibat pandemi Covid‑19 dan belum kembali hingga kini. Tanpa adanya ajang kompetisi domestik, pemain putri Indonesia hanya dapat berlatih dalam skema seleksi nasional, yang berdampak pada minimnya pengalaman bertanding secara reguler. Hal ini menjadi faktor penting yang menjelaskan kesulitan tim dalam mengatasi tekanan lawan kuat seperti Kongo.

Jadwal pertandingan melawan New Caledonia mencakup susunan pemain yang mencakup sejumlah talenta diaspora, antara lain Iris De Rouw, Isabel Kopp, Felicia De Zeeuw, dan Isa Warps. Kehadiran pemain-pemain berpengalaman di luar negeri diharapkan dapat menambah kedalaman skuad serta memberikan wawasan taktik yang lebih luas. Namun, keberhasilan mereka tetap bergantung pada kemampuan pelatih Mochizuki untuk menyusun strategi yang dapat menetralkan agresivitas lawan dan memaksimalkan potensi serangan balik.

Berbagai pihak menilai bahwa revitalisasi Liga Putri merupakan langkah krusial untuk mengatasi permasalahan struktural yang dihadapi Timnas Putri. Tanpa kompetisi domestik, proses identifikasi bakat muda menjadi terhambat, dan pemain senior tidak memiliki platform untuk mempertahankan kebugaran serta konsistensi performa. Selain itu, keberadaan liga berkelanjutan dapat meningkatkan minat sponsor, menambah pendapatan, dan memperluas basis penggemar, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas tim nasional.

Menanggapi tekanan publik, perwakilan PSSI belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai jadwal peluncuran kembali Liga Putri. Namun, beberapa analis sepak bola memperkirakan bahwa diskusi intensif akan segera dilakukan mengingat sorotan internasional yang semakin kuat setelah kegagalan di FIFA Series 2026.

Kondisi ini menuntut sinergi antara federasi, pemerintah, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem sepak bola wanita yang berkelanjutan. Jika tidak segera ditangani, kegagalan tim di panggung internasional dapat berlanjut, menurunkan motivasi generasi muda yang bermimpi menjejakkan kaki di lapangan hijau.

Dengan laga perebutan tempat ketiga hanya beberapa hari lagi, Garuda Pertiwi memiliki kesempatan emas untuk memperbaiki catatan dan menunjukkan bahwa tekad serta potensi pemain Indonesia tidak kalah dari negara lain. Keberhasilan dalam pertandingan ini dapat menjadi katalisator bagi percepatan kebijakan revitalisasi liga putri, sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap masa depan sepak bola wanita Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *