Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 April 2026 | Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kesiapan Tehran untuk menandatangani perjanjian damai dengan Amerika Serikat asalkan kepentingan nasional Iran tidak dilanggar. Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sekaligus menegaskan bahwa standar ganda yang diterapkan Washington menjadi penghalang utama dalam proses diplomasi.
Dalam dialog yang berlangsung pada hari Minggu, Pezeshkian menekankan bahwa hak‑hak rakyat Iran serta kepentingan strategis negara menjadi garis batas yang tidak dapat dinegosiasikan. Ia menambahkan, “Iran sepenuhnya siap untuk mencapai kesepakatan yang adil dengan AS demi perdamaian dan keamanan jangka panjang di kawasan Timur Tengah,”. Pernyataan resmi kepresidenan ini dipublikasikan melalui akun media sosial resmi pemerintah Iran.
Kondisi ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak sejak akhir Februari 2026, ketika serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat menargetkan infrastruktur penting di Iran. Serangan tersebut memicu balasan drone dan rudal Iran yang diarahkan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di luar negeri. Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia, juga sempat dibatasi pergerakannya oleh Teheran, menambah tekanan ekonomi global.
Respons Washington berupa pengerahan armada laut dan sistem pertahanan udara, serta peningkatan kehadiran militer di wilayah strategis, memaksa Iran menaikkan status siaga militernya. Dalam situasi yang semakin mendekati konflik terbuka, diplomasi menjadi satu‑satunya jalan keluar yang masih dipertahankan oleh kedua belah pihak.
Pezeshkian juga menyinggung isu‑isu utama yang masih menjadi titik impas dalam perundingan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengungkapkan bahwa perbedaan utama terletak pada tiga topik krusial: program nuklir Iran, pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz, serta tuntutan tambahan yang diajukan oleh Washington. Meskipun ada kemajuan dalam beberapa isu, perbedaan pada dua hingga tiga poin utama membuat negosiasi belum menghasilkan kesepakatan final.
Menurut laporan media, delegasi Amerika Serikat yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance mengakui adanya jalan buntu dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari 20 jam. Vance menyatakan bahwa Iran menolak beberapa syarat yang dianggap tidak realistis oleh pihak Washington. Sementara itu, pejabat senior Iran menegaskan bahwa standar ganda yang diterapkan AS – yakni menuntut kepatuhan tanpa memberi ruang bagi kepentingan Iran – menjadi hambatan utama.
Pengamat regional menilai bahwa pernyataan Iran tentang kesiapan damai bukan sekadar retorika, melainkan upaya untuk mengurangi tekanan ekonomi dan militer yang melanda negara tersebut. Pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, misalnya, telah menimbulkan kekhawatiran pasar minyak global dan menurunkan pendapatan ekspor Iran secara signifikan.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia melalui Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa kegagalan perundingan antara AS dan Iran dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan regional, termasuk Indonesia. Ia menekankan pentingnya kesiapan Indonesia dalam menghadapi kemungkinan dampak geopolitik yang meluas.
Dengan latar belakang konflik yang terus bereskalasi, Iran menegaskan kembali bahwa diplomasi tidak akan pernah berakhir. Pezeshkian menutup pernyataannya dengan harapan bahwa Washington akan menghormati kepentingan nasional Iran, sehingga tercipta perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah.
Jika kedua negara dapat menemukan titik temu yang menghormati kedaulatan masing‑masing, maka potensi de‑eskalasi konflik akan meningkat, mengurangi risiko meluasnya ketegangan ke negara‑negara lain di kawasan. Namun, tanpa itikad baik dan pengakuan atas kepentingan sah Iran, jalan menuju perdamaian tetap terhalang.
