Kurs Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah hingga Sentuh Rp 17.900 per Dolar

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 04 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data yang dihimpun, kurs e-Rate Bank Central Asia (BCA) pada 3 Juni 2026 menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp 17.917 dan kurs jual Rp 17.937. Sementara itu, Bank Mandiri membanderol kurs beli dolar AS di Rp 17.870 dan kurs jual Rp 17.900.

Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, permintaan dolar AS masih sangat tinggi, sehingga menyebabkan penguatan nilai terhadap mata uang lain, termasuk rupiah. “Bond-nya Amerika, Amerika US Treasury itu masih lebih menarik, itu juga mempengaruhi, bond juga mempengaruhi,” kata Rizal.

Baca juga:

Selain itu, banyaknya aktivitas di bulan Mei turut mendorong penguatan dolar AS, seperti ibadah haji. “Kemudian yang ketiga, ini kan musiman. Jadi musiman dalam makna ternyata di bulan Mei, Juni ini permintaan terhadap dolar juga tinggi. Banyak aktivitas katakanlah kalau haji,” ucap Rizal.

Rizal mengatakan, pelaku pasar juga memperhatikan pengelolaan fiskal di dalam negeri, yang dinilainya kurang kredibel. Menurutnya, belanja fiskal harus ditujukan kepada sektor-sektor produktif. “Belanja fiskal juga harus betul-betul ke sektor-sektor produktif yang benar-benar menciptakan ekonomi produktif yang bisa membuat nilai tambah. Jadi kalau program-program katakanlah yang selama ini tidak menghasilkan, itu alangkah lebih dievaluasi,” kata Rizal.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga berdampak pada industri asuransi. Direktur Operasi dan Teknik Asuransi Astra, Mulia Siregar, membenarkan terdapat potensi kenaikan klaim asuransi kesehatan karena nilai rupiah yang terus melemah, mengingat kebutuhan obat dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum mengganggu kondisi perekonomian nasional. Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi pergerakan kurs dalam penyusunan APBN, sehingga kondisi fiskal masih tetap terjaga.

Purbaya mengatakan, fokus pemerintah saat ini bukan semata-mata pada pergerakan nilai tukar, melainkan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Ia menilai fundamental ekonomi yang solid akan menjadi faktor utama yang menopang penguatan rupiah ke depan.

Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Pada hari ini, rupiah melemah 61,50 poin atau 0,34 persen ke level Rp 17.900 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi level terendah rupiah sepanjang sejarah atau all time low (ATL), melampaui rekor pelemahan yang sebelumnya pernah terjadi saat krisis moneter 1998.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah meningkat selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 1447 Hijriah. “Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” kata Denny.

Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global. Denny mengatakan komitmen tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen stabilisasi yang selama ini digunakan bank sentral, baik di pasar domestik maupun internasional.

Dalam beberapa hari ke depan, perlu diawasi apakah nilai tukar rupiah akan terus melemah atau mulai membaik. Namun, yang pasti adalah pemerintah dan Bank Indonesia akan terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *