Pelatih Parma, Carlos Cuesta: Juventus Adalah Magister Saya, Arsenal Adalah Doktoral Saya

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 26 Mei 2026 | Carlos Cuesta, pelatih kepala Parma Calcio, baru-baru ini membuka diri tentang pengalaman formatif yang membentuknya sebagai pelatih. Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Spanyol AS, Cuesta menyebut Juventus sebagai ‘magister’nya dan Arsenal sebagai ‘doktoral’nya.

Cuesta memulai karir kepelatihannya pada usia 15 tahun di kota asalnya, Mallorca, setelah menyadari bahwa masa depannya di sepak bola tidak akan sebagai pemain. Ia mengakui bahwa keputusannya untuk meninggalkan sepak bola pada usia dini dan fokus pada kepelatihan adalah keputusan yang tidak biasa, tetapi dilandasi oleh passionnya terhadap olahraga tersebut.

Baca juga:

Cuesta kemudian bergabung dengan staf kepelatihan Atletico Madrid, Juventus, dan Arsenal sebelum menjadi pelatih kepala senior. Ia menyebut setiap tahap dalam karirnya sebagai tahap pembelajaran yang berbeda. ‘Empat tahun di Atletico Madrid seperti universitas, kemudian saya melakukan magister di Juventus, dan doktoral di Arsenal, lima tahun yang luar biasa,’ katanya.

Cuesta juga memuji lingkungan kerja di Juventus, yang menurutnya sangat profesional dan memiliki budaya kerja yang sangat baik. Ia menyebut bahwa pengalaman di Juventus membantunya memahami banyak hal tentang sepak bola, termasuk pengetahuan tentang pemain, pelatih, dan budaya kerja yang sangat kuat.

Sementara itu, dalam berita lain, pemain Cremonese, Alberto Grassi, baru-baru ini diberi hukuman larangan bermain selama empat pertandingan karena menghina dan mendorong wasit selama pertandingan melawan Como. Insiden tersebut terjadi setelah wasit memberikan penalti yang dianggap lemah kepada Como, yang kemudian memicu reaksi keras dari pemain Cremonese.

Grassi diberi hukuman yang cukup berat karena menggunakan kata-kata yang tidak sopan dan mendekati wasit dengan cara yang mengancam. Rekan setimnya, Milan Djuric, juga diberi hukuman larangan bermain selama dua pertandingan karena menghina wasit, sementara David Okereke hanya diberi hukuman larangan bermain selama satu pertandingan.

Dalam kesimpulan, pengalaman Carlos Cuesta sebagai pelatih kepala Parma Calcio membuktikan bahwa pengalaman dan pembelajaran yang luas dapat membentuk seorang pelatih yang sukses. Sementara itu, insiden yang melibatkan pemain Cremonese Alberto Grassi menunjukkan bahwa disiplin dan etika masih sangat penting dalam sepak bola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *