Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 11 April 2026 | JAKARTA, 10 April 2026 – Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan kembali ancamannya untuk menutup Rest Area (RA) KM 57 pada Jalan Tol Jakarta‑Cikampek jika tidak ada perbaikan signifikan pada akses, kapasitas, dan pengelolaan arus kendaraan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang dihadiri wartawan dari berbagai media pada Jumat (10/4/2026).
Menurut Dudy, RA KM 57 menjadi salah satu titik kemacetan utama pada arus mudik dan balik Lebaran tahun ini. Jarak antara pintu masuk tol MBZ dan akses ke RA tersebut dianggap terlalu jauh, sehingga kendaraan yang berhenti di sana menimbulkan penumpukan kendaraan yang berujung pada bottleneck. “Ketika arus kendaraan mencapai volume yang sangat tinggi, terutama pada puncak mudik, kepadatan di RA KM 57 semakin parah karena banyak pemudik yang belum mengisi bahan bakar penuh atau belum menyiapkan makanan sebelum berangkat,” ujar Dudy.
Masalah ini tidak muncul pada mudik tahun sebelumnya. Pada 2025, Dudy mengakui bahwa RA KM 57 tidak menimbulkan isu signifikan. Namun, dengan peningkatan volume kendaraan pada tahun 2026, terutama kendaraan berukuran besar, kondisi berubah drastis. “Kendaraan yang masuk dan keluar secara bersamaan, serta jarak akses yang kurang optimal, menyebabkan aliran lalu lintas terhambat,” jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kementerian Perhubungan bersama Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dan Jasa Marga telah melakukan evaluasi menyeluruh. Beberapa poin utama yang menjadi fokus perbaikan antara lain:
- Peningkatan lebar dan kualitas akses masuk RA KM 57 sehingga kendaraan dapat masuk dan keluar dengan lebih cepat.
- Penambahan lahan parkir serta fasilitas istirahat yang dapat menampung volume kendaraan yang lebih besar.
- Penerapan sistem buka‑tutup berdasarkan V/C ratio (volume‑to‑capacity) yang sudah dipraktekkan di RA KM 52 dan RA KM 62.
- Peningkatan koordinasi dengan satelit lalu lintas untuk memantau kepadatan secara real‑time.
Jika perbaikan tidak tercapai dalam jangka waktu yang ditentukan, Dudy mengancam akan menutup RA KM 57 secara total atau menerapkan kebijakan buka‑tutup permanen. “Kami tidak ingin satu titik menjadi penyebab kemacetan yang meluas ke jaringan tol utama. Penutupan atau buka‑tutup akan menjadi langkah terakhir bila tidak ada perbaikan yang memadai,” tegasnya.
Selain itu, Menteri Perhubungan juga mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan mudik lebih matang. Beberapa rekomendasi yang disampaikan antara lain:
- Isi bahan bakar penuh sebelum berangkat, sehingga tidak perlu berhenti di RA KM 57 untuk mengisi bensin.
- Siapkan makanan dan minuman di kendaraan atau bawa bekal, mengurangi kebutuhan berhenti di rest area.
- Manfaatkan aplikasi pemantau kepadatan lalu lintas yang disediakan Kementerian Perhubungan untuk memilih waktu keberangkatan yang tidak bersamaan dengan puncak arus.
- Gunakan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bila memungkinkan, sehingga tidak semua orang harus bepergian pada hari yang sama.
Dalam evaluasi Angkutan Lebaran 2026, Dudy juga menyoroti kepadatan di Pelabuhan Gilimanuk dan akses menuju Tol Sumatra. Namun, ia menegaskan bahwa perbaikan di RA KM 57 menjadi prioritas karena dampaknya langsung terhadap kelancaran jalur utama Jakarta‑Cikampek yang melayani jutaan pemudik tiap tahun.
Kementerian Perhubungan telah mengirimkan rekomendasi perbaikan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Jasa Marga. Pihak Jasa Marga diharapkan dapat menyelesaikan peningkatan infrastruktur dalam waktu tiga bulan ke depan, menjelang musim mudik tahun 2027.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan RA KM 57 tidak lagi menjadi penyebab utama kemacetan dan dapat berfungsi sebagai fasilitas istirahat yang aman dan efisien bagi pemudik. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus memantau dan menyesuaikan kebijakan berdasarkan data real‑time, sehingga arus mudik Lebaran dapat berlangsung lancar tanpa hambatan signifikan.
Kesimpulannya, ancaman penutupan Rest Area KM 57 oleh Menhub Dudy Purwagandhi bukan sekadar pernyataan retorika, melainkan bagian dari strategi komprehensif untuk meningkatkan keselamatan, efisiensi, dan kenyamanan perjalanan mudik Lebaran di Indonesia. Pemerintah menunggu tindak lanjut konkret dari pihak pengelola tol dan mengajak seluruh pemudik untuk berperan aktif dalam mengurangi kepadatan dengan perencanaan yang lebih baik.
