Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 14 Mei 2026 | Kurs rupiah terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Pada pembukaan perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, mata uang Garuda kembali tersungkur dan mencetak rekor buruk baru dalam sejarah nilai tukar domestik, dengan bertahan di zona merah di kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap subsidi energi nasional tengah dibahas oleh Menteri ESDM bersama jajaran kementerian terkait.
Laode mengatakan bahwa pemerintah masih akan melihat perkembangan kondisi ekonomi dan pasar energi sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. "Itu kan belum ada info-info lain lagi kan selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," ujarnya.
Pelemahan rupiah dipicu oleh sentimen rebalancing indeks MSCI serta lonjakan harga minyak mentah di pasar global. Depresiasi mata uang nasional ini menjadi sinyal kewaspadaan terhadap ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengimbau bagi para pelaku usaha atau masyarakat untuk mengelola ekspektasi terhadap kurs rupiah terhadap dolar AS. Josua juga meminta agar mereka tidak perlu pusing memikirkan pergerakan rupiah yang masih terus melorot melawan dolar AS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Destry mengatakan, tekanan terhadap rupiah meningkat akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang semakin tinggi.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ketidakpastian global. "Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena konflik di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global," ujar Destry.
Dari sisi domestik, dia menjelaskan permintaan dolar AS meningkat secara musiman. Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN), pembayaran dividen, hingga kebutuhan valuta asing untuk ibadah haji.
Kurs rupiah diperkirakan akan terus fluktuatif karena pasar tetap mencermati arah kebijakan The Fed, arus modal asing, dan perkembangan risiko geopolitik global. Oleh karena itu, pemerintah dan otoritas moneter perlu terus memantau situasi dan mengambil kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.
