Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler β 09 Mei 2026 | Rupiah melemah ke Rp17.382 per dolar AS pada Jumat (8/5) sore, melemah 49 poin atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah dipicu oleh memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu harapan pasar terhadap pembukaan Selat Hormuz.
Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) usai sejumlah pejabatnya memberikan sinyal berbeda terkait inflasi dan suku bunga. Pasar juga fokus menunggu data ketenagakerjaan AS yang diperkirakan akan menentukan langkah The Fed selanjutnya terkait kebijakan suku bunga.
Dari domestik, pasar turut mencermati kenaikan utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per Maret 2026 atau setara 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, harga pangan seperti cabai rawit merah melonjak pada Sabtu, (9/5/2026) pada pukul 10.00 WIB. Harga cabai rawit merah naik Rp 12.500 menjadi Rp 65.350 per kilogram (kg) dari perdagangan kemarin Rp Rp 52.850 per kg.
Harga telur ayam ras tercatat Rp 31.150 per kg. Demikian berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia (BI). Rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS pada perdagangan Senin (11/5).
Kondisi ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal stabilitas moneter dan harga pangan. Oleh karena itu, pemerintah dan bank sentral perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Kesimpulan, rupiah melemah dan harga pangan naik merupakan indikator bahwa ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi tantangan ini dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
