Krisis Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: Tiga Kematian, Evakuasi Medis, dan Peringatan WHO

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 07 Mei 2026 | Kapalan Belanda MV Hondius, yang berlayar dari Ushuaia, Argentina pada awal April 2026, menjadi sorotan dunia setelah terdeteksi wabah hantavirus yang menewaskan tiga penumpang dan memaksa evakuasi medis internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi bahwa strain virus yang teridentifikasi merupakan varian langka yang dapat ditularkan antar manusia, menimbulkan kekhawatiran akan potensi penyebaran lebih luas.

Menurut laporan WHO, pertama kali pihak otoritas kesehatan menerima pemberitahuan tentang “kelompok kasus penyakit pernapasan akut berat” pada 2 Mei, yang mencakup dua kematian dan satu pasien kritis. Penyelidikan selanjutnya mengungkap bahwa virus tersebut menular melalui droplet dari kotoran, urine, dan air liur rodent yang terinfeksi, yang biasanya terpapar pada manusia saat menghirup partikel aerosol berisi virus.

Baca juga:

Rute perjalanan MV Hondius mencakup pemberhentian di wilayah Antartika, Tristan da Cunha, Saint Helena, South Georgia, Nightingale Island, dan Ascension Island sebelum tiba di Praia, Cape Verde pada 6 Mei. Selama perjalanan, penumpang dan kru melaporkan gejala flu, demam, diare ringan, hingga sesak napas. Tiga korban meninggal secara berurutan: seorang pria berusia 70 tahun dari Belanda pada 11 April, istrinya pada 26 April setelah kondisi memburuk di Johannesburg, serta seorang wanita Jerman yang meninggal pada 2 Mei setelah gejala muncul pada 28 April.

Investigasi lebih lanjut mengaitkan penyebab awal wabah dengan pasangan suami istri Belanda yang melakukan perjalanan bird‑watching ke sebuah tempat pembuangan sampah di Ushuaia sebelum naik kapal. Lokasi tersebut dikenal memiliki populasi rodent tinggi, meningkatkan risiko paparan hantavirus. Penyelidikan kini mencakup pelacakan jejak mereka serta pemeriksaan lingkungan di pelabuhan-pelabuhan yang dilalui kapal.

Kasus lain yang menambah kompleksitas situasi melibatkan mantan polisi Inggris, Martin Anstee, berusia 56 tahun, yang bekerja sebagai pemandu ekspedisi di kapal. Ia diisolasi di rumah sakit setelah mengalami gejala berat dan harus dievakuasi menggunakan pesawat medis ke Belanda. Anstee menyatakan ketidakpastian mengenai lamanya perawatan dan menekankan perlunya tes lanjutan untuk memastikan tidak ada penularan lebih lanjut.

Pihak berwenang Inggris, melalui UK Health Security Agency, menegur dua warga Britania yang kembali ke tanah air agar segera melakukan isolasi mandiri. Upaya penelusuran kontak terus dilakukan, dengan koordinasi lintas negara antara WHO, otoritas kesehatan nasional, serta tim medis di Cape Verde, Belanda, dan Inggris.

  • 6 Mei: WHO mengeluarkan pernyataan resmi tentang wabah hantavirus di MV Hondius.
  • 7 Mei: Evakuasi medis pertama dilakukan, termasuk Martin Anstee dan dua penumpang lainnya.
  • 8 Mei: Tiga korban meninggal, total kasus terkonfirmasi menjadi lima.
  • 9 Mei: Kapal dipindahkan ke pelabuhan Canary Islands untuk evaluasi lebih lanjut.

WHO menegaskan bahwa meskipun strain hantavirus ini dapat menular antar manusia, risiko penyebaran komunitas masih rendah karena mayoritas penularan terjadi di lingkungan tertutup kapal. Namun, otoritas kesehatan menekankan pentingnya protokol kebersihan, ventilasi yang baik, dan pengendalian rodent di fasilitas akomodasi massal.

Para ahli epidemiologi mengingatkan bahwa hantavirus bukan virus baru; namun kasus pada kapal pesiar ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dalam mengidentifikasi dan menangani wabah penyakit menular di sektor pariwisata. Mereka merekomendasikan pemeriksaan pra‑perjalanan untuk rodent dan sanitasi yang ketat, terutama pada rute yang melintasi daerah dengan populasi hewan pengerat tinggi.

Sejumlah negara, termasuk Spanyol dan Portugal, menolak pemberhentian MV Hondius di pelabuhan mereka hingga situasi dinyatakan aman. Sementara itu, penumpang yang masih berada di kapal diberikan perawatan suportif, dan tim medis internasional terus memantau perkembangan klinis serta melakukan tes PCR untuk memastikan tidak ada varian baru yang muncul.

Kasus ini menambah daftar insiden zoonosis yang menuntut respons cepat dan kolaborasi global, mengingat dampaknya tidak hanya pada kesehatan individu tetapi juga pada industri pariwisata yang masih berusaha pulih pasca pandemi COVID‑19.

Dengan tiga korban meninggal dan sejumlah penumpang serta kru yang masih dalam perawatan, dunia menantikan hasil akhir investigasi untuk menentukan langkah selanjutnya dalam pencegahan wabah serupa di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *