Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 19 April 2026 | Jakarta, 19 April 2026 – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengumumkan penghentian operasional sementara Indonesia Game Rating System (IGRS) setelah terungkap skandal kebocoran data game. Kebocoran tersebut melibatkan dokumen internal developer serta footage eksklusif game 007: First Light, yang menimbulkan keraguan terhadap integritas sistem rating nasional sejak peluncurannya pada 2016.
Kontroversi IGRS bukan hanya soal kebocoran data. Sistem rating ini telah lama mendapat kritik karena mengandalkan mekanisme self‑assessment tanpa verifikasi independen. Pengembang diminta mengisi kuesioner penilaian konten, namun jawaban tersebut tidak selalu dicek oleh lembaga eksternal. Akibatnya, sejumlah judul mendapatkan label usia yang tidak akurat. Misalnya, game ramah anak A Space for the Unbound (2022) dan Upin & Ipin Universe (2025) secara keliru diberi label IGRS +18, sementara judul dengan tingkat kekerasan tinggi seperti Dead Space (2023) dan Nukitashi (2023) hanya menerima rating IGRS 3+.
Selain kesalahan klasifikasi, beberapa game AAA tercatat sebagai Refused Classification (RC), yang berarti dilarang beredar di Indonesia. Daftar RC meliputi Grand Theft Auto V (2013), Clair Obscure: Expedition 33 (2025), dan Metal Gear Solid Delta: Snake Eater (2025). Kebijakan ini memicu protes keras dari komunitas gamer dan developer, yang menilai keputusan tersebut terlalu ketat dan tidak selaras dengan standar internasional seperti ESRB dan PEGI.
Sonny Hendra Suryana, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Komdigi, menjelaskan bahwa IGRS dirancang untuk mematuhi Peraturan Pemerintah TUNAS Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. Ia menegaskan bahwa self‑assessment seharusnya menjadi tahap awal yang diikuti oleh verifikasi lapangan. Namun, keterbatasan sumber daya dan koordinasi dengan platform distribusi seperti Steam menghambat pelaksanaan verifikasi yang menyeluruh.
Hubungan antara Komdigi dan Steam menjadi sorotan tambahan. Pemerintah menegaskan bahwa label rating yang muncul di toko Steam bukan hasil verifikasi resmi, melainkan tampilan yang dihasilkan oleh sistem IGRS yang belum terintegrasi secara resmi. Komdigi telah mengirimkan surat klarifikasi kepada Valve Corporation untuk menanyakan prosedur penayangan label serta menuntut perbaikan integrasi demi menghindari kebingungan konsumen.
Menanggapi situasi tersebut, Komdigi memutuskan menangguhkan sementara layanan IGRS dan memulai evaluasi menyeluruh. Tim khusus yang terdiri dari ahli keamanan siber, regulator, dan perwakilan industri game telah dibentuk untuk mengaudit sistem, menutup celah keamanan, dan merumuskan prosedur verifikasi yang lebih ketat. Target utama evaluasi meliputi:
- Peningkatan keamanan portal IGRS untuk mencegah akses tidak sah.
- Penerapan proses verifikasi konten oleh lembaga independen sebelum pemberian rating.
- Sinkronisasi data rating dengan platform distribusi internasional seperti Steam, Epic Games Store, dan PlayStation Store.
- Penyusunan pedoman yang lebih transparan bagi developer terkait pengisian kuesioner self‑assessment.
Komdigi menegaskan bahwa penghentian sementara tidak akan mempengaruhi distribusi game yang sudah terdaftar, namun label usia yang ditampilkan akan bersifat sementara hingga proses evaluasi selesai. Pemerintah berharap langkah ini dapat memulihkan kepercayaan publik dan menegaskan komitmen Indonesia dalam menciptakan ekosistem game yang aman, adil, dan kompetitif di tingkat global.
Para pengamat industri menilai krisis ini sekaligus menjadi peluang bagi Indonesia memperbaiki kerangka regulasi digitalnya. Dengan mengadopsi standar internasional yang lebih ketat dan meningkatkan kolaborasi lintas sektoral, IGRS berpotensi menjadi model bagi negara‑negara berkembang yang tengah mengembangkan sistem rating game nasional. Sementara itu, komunitas gamer menantikan keputusan akhir yang dapat mengembalikan kejelasan label usia serta melindungi hak konsumen dalam mengakses konten yang sesuai.
Keputusan Komdigi untuk menghentikan sementara IGRS menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menanggapi kegagalan sistem dan kebocoran data yang mengancam reputasi industri game Indonesia. Evaluasi yang sedang berlangsung diharapkan menghasilkan reformasi menyeluruh, menjadikan IGRS lebih akurat, aman, dan selaras dengan standar internasional, sehingga dapat mendukung pertumbuhan industri kreatif digital di tanah air.
