Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 13 Juni 2026 | Piala Dunia 2026 telah memasuki hari kedua dengan berbagai pertandingan menarik. Namun, satu hal yang menarik perhatian adalah kontroversi seputar kursi kosong di stadion. Pertandingan antara Korea Selatan dan Republik Ceko di Stadion Akron, Zapopan, Meksiko, memicu perdebatan tentang jumlah penonton yang hadir.
FIFA mencatat bahwa pertandingan tersebut dihadiri 44.985 penonton, yang mendekati kapasitas maksimal stadion yang mencapai 45.664 kursi. Namun, pemandangan di dalam stadion memunculkan pertanyaan. Sejumlah kursi kosong terlihat jelas di berbagai sektor tribune meski data resmi menunjukkan tingkat keterisian yang sangat tinggi.
Tayangan televisi maupun foto-foto pertandingan memperlihatkan banyak area tempat duduk yang tidak terisi penonton. Kondisi itu membuat publik mempertanyakan kesesuaian data kehadiran yang dirilis FIFA. Sorotan terhadap jumlah penonton semakin menguat setelah media Inggris The Sun mengungkap data tambahan.
Media tersebut menyebut masih ada sekitar 180 ribu tiket yang belum terjual kembali melalui portal resmi penjualan ulang (resale) FIFA. Temuan itu memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak netizen mempertanyakan penyebab banyaknya kursi kosong pada hari-hari awal turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Sementara itu, Korea Selatan berhasil meraih kemenangan 2-1 atas Republik Ceko. Kemenangan ini merupakan hasil yang memuaskan bagi tim asuhan Paulo Bento. Dalam pertandingan lain, Meksiko juga berhasil mengalahkan Afrika Selatan dengan skor 2-0.
Pertandingan Piala Dunia 2026 masih akan berlanjut dengan berbagai pertandingan menarik. Namun, kontroversi seputar kursi kosong di stadion masih menjadi perhatian utama. FIFA dan penyelenggara turnamen harus segera menyelesaikan masalah ini untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan penonton.
Di luar sepak bola, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Korea Utara juga menjadi perhatian. Xi Jinping melakukan kunjungan dua hari ke Pyongyang, menandai penguatan hubungan strategis China-Korea Utara melalui kerja sama militer, ekonomi, dan diplomasi. Namun, pertemuan puncak antara Xi dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tidak membahas isu denuklirisasi, menunjukkan perubahan sikap Beijing yang kini menerapkan kebijakan ambiguitas strategis.
Perubahan sikap ini menandai pergeseran dalam kebijakan luar negeri China, yang kini lebih fokus pada memperkuat solidaritas regional melawan Amerika Serikat daripada menekan ambisi nuklir Korea Utara. Langkah ini juga menunjukkan bahwa China kini lebih memprioritaskan persatuan regional daripada mengekang ambisi senjata nuklir dan rudal Korea Utara.
