Nathan Tjoe‑A‑On Sindir NAC Breda Usai Bebas Paspoortgate: “Mereka Lakukan Apa Saja Demi Hindari Degradasi”

Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 17 April 2026 | Pemain timnas Indonesia Nathan Tjoe‑A‑On kembali tampil di lapangan setelah sekian minggu terpaksa menepi akibat polemik paspor yang melanda kompetisi Eredivisie. Kasus yang sempat menjeratnya bersama rekan‑rekan naturalisasi Indonesia di Belanda akhirnya dinyatakan selesai, namun Nathan tak melewatkan kesempatan untuk mengkritik klub NAC Breda yang menjadi pemicu utama insiden tersebut.

Menurut wawancara yang diberikan pada Kamis, 16 April 2026, Nathan menjelaskan bahwa ia merasa situasi “paspoortgate” sangat aneh karena terjadi bertepatan dengan jeda internasional ketika ia berada di Indonesia bersama timnas. “Saya pikir semuanya dibesar‑besarkan di Belanda dibandingkan dengan apa yang saya rasakan,” ujar Nathan, mengutip pernyataan yang diterbitkan oleh Brabants Dagblad. Ia menambahkan bahwa selama proses klarifikasi, ia tidak diizinkan mengakses fasilitas latihan Willem II dan harus berlatih secara mandiri.

Baca juga:

Kasus bermula dari laporan NAC Breda kepada KNVB terkait status izin bermain Dean James, bek kiri yang baru saja dinaturalisasi menjadi warga negara Indonesia pada Maret 2025. Laporan tersebut menimbulkan pertanyaan atas keabsahan izin kerja beberapa pemain berdarah Indonesia, termasuk Nathan yang terdaftar sebagai pemain dengan paspor Belanda. Akibatnya, Nathan dan sejumlah pemain lainnya harus menepi sementara hingga kejelasan hukum didapat.

Setelah proses hukum berjalan, surat izin kerja Nathan akhirnya selesai pada pekan kedua April. Ia kembali masuk ke skuad Willem II dan tampil penuh 90 menit dalam kemenangan melawan Almere City di kasta kedua Liga Belanda. “Saya lega bisa kembali bermain penuh dan tim kami meraih kemenangan penting,” kata Nathan dengan nada optimis.

Namun, di balik rasa lega tersebut, Nathan tidak menutup mata atas tindakan NAC Breda. Ia menilai bahwa klub yang tengah berada di zona degradasi berhak melakukan apa saja demi menyelamatkan diri, termasuk melaporkan pemain naturalisasi secara agresif. “Saya dapat memahami sampai batas tertentu bahwa klub seperti NAC, yang berada di zona degradasi, akan melakukan apa saja untuk meraih keuntungan,” ujar Nathan.

Menurut laporan lain, NAC Breda mengajukan banding ke KNVB dan bahkan melanjutkan proses ke pengadilan perdata setelah keputusan awal tidak memihak pada mereka. Klub tersebut berharap pertandingan melawan Go Ahead Eagles yang berakhir 0‑6 dapat diulang, mengingat mereka menilai keputusan kompetisi tidak adil. Pendapat pengamat sepak bola Belanda, Johan Derksen, menilai tindakan NAC Breda tidak sportif dan menegaskan bahwa klub seharusnya tidak melampiaskan kegagalannya melalui litigasi berlarut‑larut.

Di sisi lain, Dean James, pemain yang menjadi pusat polemik, juga telah kembali bermain setelah dinyatakan tidak melanggar aturan. Kasus ini membuka perdebatan lebih luas tentang regulasi pemain naturalisasi di Eropa, terutama bagi negara‑negara yang mengandalkan talenta naturalisasi untuk memperkuat skuad nasional.

Meski Nathan mengakui situasi tersebut mengganggu ritme latihannya, ia menegaskan tidak menyimpan dendam terhadap pihak manapun. “Saya melihat kejadian ini sebagai bagian dari dinamika sepak bola profesional yang harus dihadapi pemain,” jelasnya. Nathan menambahkan bahwa penanganan kasus oleh pihak klub dan federasi sudah tepat, sehingga ia tidak khawatir akan muncul masalah serupa di masa depan.

Kasus paspor ini sekaligus menjadi pelajaran bagi klub‑klub Eredivisie yang berada dalam tekanan degradasi. Dengan menegakkan regulasi secara ketat, mereka berharap dapat menghindari sanksi kompetitif. Namun, kritik Nathan mengingatkan bahwa kepentingan klub tidak boleh mengorbankan hak dan karier pemain, terutama mereka yang telah berkontribusi bagi timnas Indonesia.

Secara keseluruhan, Nathan Tjoe‑A‑On kini kembali fokus pada performa di Willem II dan persiapan menghadapi laga berikutnya, sambil terus mendukung Timnas Indonesia dalam rangkaian pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026. Ia berharap insiden serupa tidak terulang, dan regulasi dapat disesuaikan agar naturalisasi pemain menjadi proses yang transparan dan adil bagi semua pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *