Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 28 Mei 2026 | Estádio Municipal de Braga bukan sekadar tempat menggelar pertandingan. Ia adalah monumen di mana beton bertemu dengan sejarah geologi bumi. Dibangun untuk menyambut Euro 2004, stadion ini mematahkan tradisi dengan meniadakan tribun di belakang gawang dan menggantinya dengan dinding batu raksasa.
Alih-alih meratakan lahan, sang arsitek, Eduardo Souto de Moura, justru memilih untuk “memahat” stadion ini ke dalam tebing granit Monte do Castro. Keputusan berisiko ini membuahkan hasil yang mengagumkan. Hasilnya, sebuah stadion yang tidak mendominasi alam, tetapi menjadi bagian darinya.
Jika kamu mendongak ke atas, kamu akan melihat jaringan kabel baja yang rumit menghubungkan atap kedua tribun. Desain ini bukan tanpa alasan. Souto de Moura terinspirasi dari jembatan gantung kuno suku Inca di Peru. Kabel-kabel ini berfungsi menstabilkan atap sekaligus memberikan kesan ringan, seolah-olah atap beton tersebut melayang di antara tebing.
Salah satu elemen paling unik adalah papan skor digitalnya. Karena tidak ada tribun di salah satu ujung lapangan, papan skor stadion ini dipasang langsung pada dinding batu granit. Pemandangan ini menjadi salah satu shot kamera paling ikonik setiap kali SC Braga menjamu lawan-lawannya di kompetisi Eropa.
Pernah membayangkan masuk ke stadion melalui lorong bawah tanah? Di sini, penonton yang ingin berpindah tribun atau menuju area parkir harus melewati terowongan besar seluas 5.000 meter persegi yang digali langsung di bawah lapangan. Ini memberikan pengalaman transisi yang dramatis dari kegelapan batu menuju terangnya lampu stadion.
Stadion Braga ini merupakan contoh nyata bahwa arsitektur dapat berbaur dengan alam dan menciptakan sesuatu yang unik dan ikonik. Dengan desain yang futuristik dan integrasi dengan lingkungan sekitar, stadion ini telah menjadi simbol kebanggaan bagi kota Braga dan Portugal.
