Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 15 April 2026 | Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) kembali menjadi sorotan utama setelah kegagalan timnas Italia lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Pengunduran diri Gabriele Gravina membuka ruang bagi dua tokoh berpengalaman, Giovanni Malago dan Giancarlo Abete, untuk bersaing memperebutkan kursi presiden tertinggi dalam struktur sepak bola tanah pizza.
Giovanni Malago, mantan Presiden Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) yang menjabat selama 12 tahun, mendapatkan dukungan kuat dari 18 klub Serie A. Dalam pertemuan Lega Serie A di Milan pada 13 April 2026, mayoritas klub menyatakan pilihan mereka kepada Malago, meski klub Lazio dan Hellas Verona memilih abstain untuk meninjau kerangka peraturan pemilihan. Dukungan klub-klub Serie A memberi Malago kontrol atas 18% suara dalam pemilihan, sementara Ligan Nasional Dilettanti (LND) yang dipimpin Abete menyumbang 34% suara.
Giancarlo Abete, yang pernah menjabat sebagai Presiden FIGC dari 2007 hingga 2014 dan kini memimpin LND, menegaskan kesiapan organisasi amatur untuk memberikan suara yang seimbang. Ia menekankan bahwa “satu orang saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sepak bola Italia” dan menyerukan kolaborasi lintas liga serta komponen teknis.
Struktur suara dalam pemilihan Presiden FIGC terbagi sebagai berikut:
- Klub Serie A: 18% (18 klub dari 20 memberikan dukungan penuh kepada Malago)
- LND: 34% (dipimpin Abete)
- Liga Profesional lainnya (Serie B, Serie C, dll.): sisanya
Kandidat yang memperoleh lebih dari 50% suara akan terpilih. Dengan dukungan mayoritas klub Serie A, Malago berada pada posisi yang menguntungkan, namun Abete masih memiliki peluang signifikan lewat blok suara LND.
Sementara persaingan kepemimpinan FIGC berlangsung, spekulasi mengenai nasib Timnas Italia semakin intens. Kegagalan melawan Bosnia-Herzegovina pada final playoff kualifikasi Piala Dunia menimbulkan pertanyaan tentang arah taktik dan manajemen timnas. Media Italia menyoroti dua kandidat utama untuk posisi pelatih kepala: Massimiliano Allegri dan Antonio Conte. Kedua pelatih tersebut memiliki rekam jejak kuat di level klub, dan keputusan akhir diperkirakan akan dipengaruhi oleh siapa yang memegang kursi presiden FIGC.
Jika Malago terpilih, analis memperkirakan kebijakan yang lebih terintegrasi antara Serie A, lembaga nasional, dan federasi akan diterapkan, termasuk kemungkinan restrukturisasi sistem akademi pemain muda. Sebaliknya, Abete diprediksi akan menekankan pemberdayaan liga amatir serta memperkuat jalur pengembangan bakat dari tingkat dasar.
Di luar Italia, FIFA sedang menimbang skenario tambahan berupa playoff ekstra untuk mengisi slot yang mungkin kosong jika Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) memutuskan mundur dari Piala Dunia 2026. Skenario ini melibatkan dua tim Eropa dan dua tim Asia, dengan Italia menjadi salah satu kandidat terdekat mengingat peringkat UEFA dan performa terakhir. Jika playoff tambahan dilaksanakan, peluang Italia untuk kembali ke panggung dunia akan meningkat, meski tetap bergantung pada keputusan FIGC tentang kepemimpinan dan kebijakan teknis.
Ketegangan antara Allegri dan Conte juga menambah kompleksitas situasi. Allegri, yang saat ini melatih AC Milan, sedang berhadapan dengan dinamika internal klub yang menuntut lebih banyak kontrol taktis. Conte, yang memimpin Napoli, dinilai lebih terbuka untuk kembali ke timnas, terutama bila struktur federasi memberi ruang bagi kebijakan jangka panjang. Keduanya menilai bahwa dukungan presiden FIGC akan menjadi faktor penentu dalam memperoleh mandat untuk mengarahkan timnas.
Jadwal pemilihan Presiden FIGC ditetapkan pada 22 Juni 2026, tepat setelah penyelesaian proses playoff tambahan FIFA (jika diperlukan). Keputusan tersebut diharapkan akan memberikan kejelasan tentang arah kebijakan teknis, manajemen klub, dan strategi pengembangan pemain muda. Baik Malago maupun Abete diharapkan akan menghadapi tantangan besar, termasuk memperbaiki hubungan antara liga profesional dan amatir, mengoptimalkan sistem scouting, serta menyiapkan timnas untuk kembali bersaing di panggung internasional.
Secara keseluruhan, pertarungan antara Malago dan Abete bukan sekadar kompetisi pribadi, melainkan refleksi dari dinamika struktural dalam sepak bola Italia. Pilihan pemilih akan menentukan apakah federasi akan melangkah maju dengan pendekatan yang lebih terpusat pada kekuatan klub Serie A, atau mengadopsi model inklusif yang menyeimbangkan peran liga amatir. Keputusan tersebut akan memengaruhi tidak hanya kembalinya Italia ke Piala Dunia, tetapi juga masa depan generasi pemain muda, stabilitas keuangan klub, dan posisi Italia dalam ekosistem sepak bola global.
