Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 22 April 2026 | Pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026 berakhir imbang 2-2 antara Dewa United dan Persib Bandung di Banten International Stadium, Serang. Meskipun hasil akhir tampak adil, sorotan utama mengarah pada keputusan-keputusan kontroversial yang diambil oleh wasit Yoko Supriyanto. Dua gol Dewa United, yang dicetak Alex Martins Ferreira pada menit ke-24 dan Ricky Kambuaya pada menit ke-61, dipertanyakan keabsahannya oleh seluruh kubu Persib dan pendukungnya.
Eliano Reijnders, bek kiri Persib, mengaku timnya tidak tampil optimal pada awal pertandingan namun tetap berjuang hingga akhir. “Seribu persen sepakat dengan apa yang dikatakan pelatih. Kami memulai pertandingan dengan tidak terlalu bagus, tapi setelah itu kami dapat mengembangkan permainan hingga akhirnya bisa imbang 2-2,” ujar Reijnders. Di balik pernyataan itu, terdapat kekecewaan mendalam terhadap apa yang dianggap sebagai kepemimpinan wasit yang bias.
Pelatih Bojan Hodak menegaskan bahwa start buruk Persib sebagian besar dipicu oleh keputusan-keputusan pengadil. Ia menambahkan bahwa tim harus mengevaluasi tidak hanya taktik, tetapi juga faktor non‑teknis seperti pengambilan keputusan di lapangan.
Kukuh Wiguna, mantan pemain Viking Lembang, menambah daftar kritik dengan menyoroti kegagalan VAR. “Gol pertama sudah jelas bola keluar, namun wasit tidak meniup peluit dan VAR tidak mengubah keputusan. Apa gunanya VAR kalau tidak menegakkan keadilan?” ujar Kukuh dalam wawancara. Ia juga menyoroti gol kedua yang dianggapnya handball, namun tetap disahkan.
Manajer Persib, Umuh Muchtar, meluapkan kemarahannya secara terbuka. Ia menuduh wasit Yoko Supriyanto mengesahkan gol pertama meskipun bukti visual menunjukkan bola sudah melampaui garis. “Saya memiliki foto yang membuktikan bahwa bola sudah keluar, dan saya akan menyebarluaskannya. Persib tidak kalah karena performa, melainkan karena wasit,” tegas Muchtar.
Berikut rangkaian poin utama yang dipertanyakan:
- Gol pertama Dewa United (menit 24) – bola diduga sudah keluar sebelum menyentuh gawang.
- Gol kedua Dewa United (menit 61) – potensi handball pada pemain Dewa United sebelum gol.
- Ketidaktegasan penggunaan VAR – review tidak menampilkan gambar jelas kepada penonton.
- Kartu merah yang diberikan kepada Alex Martins Ferreira – keputusan yang dianggap tidak konsisten.
Para pengamat sepakbola menilai bahwa insiden ini mencerminkan masalah struktural dalam penerapan teknologi di Liga Indonesia. Tanpa transparansi dan konsistensi, keputusan yang merugikan satu tim dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi.
Persib Bandung kini harus mengalihkan fokus ke laga berikutnya melawan Arema FC. Sementara itu, tekanan terhadap PSSI untuk memperbaiki prosedur VAR dan memberikan pelatihan yang lebih ketat kepada para pengadil semakin menguat.
Kasus ini juga menjadi peringatan bagi klub lain bahwa faktor non‑teknis dapat mempengaruhi hasil akhir. Jika tidak ada perbaikan, risiko terulangnya keputusan kontroversial akan terus mengganggu perkembangan sepakbola Indonesia, termasuk aspirasi Timnas untuk melaju ke panggung internasional seperti Piala Dunia.
Dengan sorotan media yang semakin tajam, diharapkan pihak berwenang segera menindaklanjuti protes ini, memperbaiki mekanisme VAR, dan memastikan bahwa setiap keputusan di lapangan dapat dipertanggungjawabkan secara adil.
