Radarwarga.id – Portal Berita Warga dan Informasi Terpopuler – 10 April 2026 | Pelatih baru Timnas U‑17 Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, yang resmi diangkat pada Februari lalu, menegaskan bahwa skuad Garuda Muda tidak akan dipaksa meniru jejak gemilang pendahulunya, Nova Arianto. Meskipun Nova berhasil membawa tim ke perempat final Piala Asia U‑17 2025 dan mengamankan tiket ke Piala Dunia U‑17 2025, Kurniawan menolak agar pencapaian tersebut menjadi beban psikologis bagi para pemain muda.
“Kami ingin prestasi menjadi motivasi, bukan beban,” ujar Kurniawan dalam konferensi pers di Senayan, Jakarta. Ia menambahkan bahwa pemain berusia 15‑17 tahun masih berada dalam fase pembelajaran dan perlu menikmati proses pengembangan mental serta teknis tanpa tekanan berlebih. “Saya tekankan bahwa mereka adalah pemain muda, dan apa yang mereka lakukan hari ini harus menjadi fondasi bagi karier mereka ke depan,” tegasnya.
Target jangka panjang tetap ambisius, yakni lolos ke Piala Dunia U‑17 2026 melalui jalur Piala Asia U‑17 2026. Namun, Kurniawan memfokuskan persiapan pada dua kompetisi utama di tahun 2026: ASEAN Cup U‑17 yang dijadwalkan pada 11‑24 April di Jawa Timur, serta Piala Asia U‑17 yang akan digelar pada Mei di Arab Saudi. Menurutnya, kedua turnamen tersebut akan menjadi batu loncatan bagi tim untuk mengasah mental bertanding di level internasional.
Persiapan tim tengah berlangsung intensif di Surabaya, di mana skuad menjalani pemusatan latihan sejak awal tahun. Dalam rangka menguji kesiapan, tim melakukan serangkaian pertandingan uji coba, termasuk laga melawan China U‑17 di Indomilk Arena, Tangerang, serta sesi uji coba di Thailand. Kurniawan mencatat adanya progres signifikan dalam hal penguasaan bola dan ketahanan mental setelah menghadapi lawan‑lawannya yang lebih kuat.
“Peningkatan terlihat jelas pada aspek mental bertanding dan penguasaan bola. Kami sudah mengatasi beberapa kesalahan individu yang dulu sering berujung kebobolan,” kata Kurniawan, mengutip pernyataan yang diambil dari Antara. Ia menambahkan bahwa mengurangi kesalahan elementer menjadi pekerjaan rumah utama menjelang Piala AFF U‑17 2026, terutama karena turnamen akan menampilkan grup A yang berisi Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste.
Pengalaman Kurniawan sebagai mantan pemain legendaris Timnas Indonesia dan bekas asisten pelatih di klub Italia Como 1907 menjadi nilai tambah dalam mengembangkan taktik dan mentalitas tim. Ia percaya bahwa pemaparan pada standar kompetisi Eropa dapat menambah wawasan taktik serta menumbuhkan rasa percaya diri pemain muda. “Pengalaman di luar negeri membantu saya memahami cara membangun tim yang disiplin dan kreatif,” ungkapnya.
Para pengamat sepak bola menilai langkah Kurniawan tepat. Raja Isa, pengamat asal Malaysia, menilai bahwa Indonesia masih menjadi unggulan di level ASEAN dan memiliki keunggulan sebagai tuan rumah. Ia menilai bahwa tekanan tambahan dapat diubah menjadi energi positif bila dikelola dengan baik. “Kurniawan memiliki kesempatan untuk mengangkat moral tim, terutama setelah lima kali kegagalan di ujicoba internasional,” sambungnya.
Selama fase persiapan, Kurniaanto juga menekankan pentingnya kebersamaan antar generasi. Ia mengajak pemain muda untuk meneladani sikap profesional para senior yang pernah mengukir prestasi sebelumnya, tanpa meniru secara kaku. “Kami menghormati apa yang telah dicapai Nova, tetapi kami ingin menulis cerita kami sendiri,” tutup Kurniawan.
Dengan jadwal pertandingan yang padat, Timnas U‑17 Indonesia akan menatap pertama kali di Piala AFF U‑17 2026 melawan Timor Leste pada 13 April, diikuti Vietnam dan Malaysia. Keberhasilan di turnamen ini diharapkan menjadi tolok ukur kesiapan tim menjelang Piala Asia U‑17, yang menjadi jalur kualifikasi ke Piala Dunia U‑17 Qatar 2026. Jika segala sesuatunya berjalan lancar, Indonesia memiliki peluang besar untuk melaju hingga semifinal atau bahkan menjadi runner‑up, mengukir kembali sejarah gemilang di level usia muda.
Kesimpulannya, Kurniawan Dwi Yulianto menyeimbangkan ambisi tinggi dengan pendekatan psikologis yang menenangkan, memastikan para pemain muda tetap fokus pada perkembangan teknik dan mental tanpa tertekan oleh ekspektasi masa lalu. Langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga kesejahteraan pemain, tetapi juga memaksimalkan potensi mereka dalam menorehkan prestasi baru bagi sepak bola Indonesia.
